Lompat ke konten

Ilmu Al-Qur'an Dan Tafsir

Bahasa Rindu Kaum Akademisi

Bahasa Rindu Kaum Akademisi

            Seseorang secara tak sengaja membuka layar ponsel yang mengarahkan kepada galeri foto. Ia menemukan beberapa foto ketika kuliah masih diadakan secara tatap muka. Ia bergumam “Kapan kiranya semua ini kembali seperti semula, walaupun pergi ke kampus sesuatu yang melelahkan tapi, di sisi lain juga menyenangkan”. Begitulah kiranya mahasiswa yang sedang mengalami kerinduan mendalam terhadap aktivitas biasa di perkuliahan. Pandemi Covid-19 ini telah “merenggut” kebahagiaan mahasiswa di tanah air, walaupun tidak semuanya demikian. Hal tersebut mengakibatkan merebaknya gejala kerinduan terhadap kampus tercinta dan segala aktivitas didalamnya. Tetapi sebelum beranjak kepada pembahasan lebih lanjut mengenai kerinduan, kiranya apa yang dimaksud dengan rindu itu sendiri?

Kamus kebanggaan kita mendefinisikan rindu dengan pernyataan sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu. Wilkinson dalam kamusnya mengartikan rindu dengan dengan gairah dan keinginan yang terus menerus (berkelanjutan) dan ia juga menyandingkan juga kata rindu dengan kata cinta. Kamus Klinkert menjelaskan kata rindu yaitu keinginan  dan keinginan yang sangat. Dalam bahasa Inggris kata rindu memiliki padanan kata long¸ dan miss. Walaupun kata long lumrah diartikan panjang, namun seorang pakar mengatakan dalam bukunya bahwa kata tersebut bermakna juga to desire (menginginkan, menghendaki, gairah, hasrat) dan yearn (mendambakan). Lain halnya dengan bahasa Inggris, Kata rindu dalam Bahasa Arab berpadanan dengan kata syauq, yang menurut Ibnu Faris memiliki makna dasar berhubungan, berikatan atau berkaitannya sesuatu dengan sesuatu. Kata syauq  memiliki makna turunan yaitu kecenderungan diri terhadap sesuatu dan menurut Ibnu Faris kata itu tidak dipakai kecuali dalam konteks sesuatu yang berkaitan dengan cinta. Dalam hal ini ada kemiripan definisi rindu antara Ibnu Faris dengan Wilkinson. Dengan demikian arti kata rindu secara leksikal dalam  bahasa-bahasa tersebut memiliki komponen ingin, harap, sangat, dan cinta.

Tentu arti secara bahasa kata rindu tersebut tidak dapat diterapkan secara langsung dalam komunikasi. Tetap diperlukan adanya konteks yang menyertainya sehingga kata tersebut memiliki makna yang tepat dengan situasi dan kondisi yang dialami. Ketika seseorang mengatakan “aku merindukanmu”, jika makna yang digunakan adalah salah satu makna leksikalnya misalnya “ingin” maka ungkapan tersebut tidak lantas diartikan bahwa yang berkata menginginkan seseorang yang dituju itu.

Rindu seringkali berkaitan dengan kenginan yang sangat. Misal ketika seseorang mengatakan “aku merindukanmu” dalam situasi mereka adalah teman yang sudah lama tak bertemu. Maka dalam hal ini, makna rindu mengacu pada keinginan, kehendak, harapan yang sangat untuk bertatap muka dan bertemu. Hampir  dalam banyak hal, rindu berkaitan erat dengan pertemuan, dalam arti pertemuan bertatap muka. Ungkapan “aku rindu kamu”, “aku rindu membaca buku”, aku rindu bapak X”, “aku merindukan malam”, “aku rindu hari libur” dan “aku rindu berkuliah” semuanya mengacu pada kenginan untuk bertatap muka dan bertemu.

Bagaimana jika ungkapan ini diutarakan ketika situasi seperti ini, yaitu kondisi yang mengharuskan seseorang tidak bertemu satu sama lain sehingga segala aktivitas yang melibatkan banyak orang dibatasi? Terutama jika dikaitkan dengan para mahasiswa yang sudah lama tidak “menikmati kursi kelas perkuliahan” sebagaimana tertulis pada paragraf sebelumnya. Tentu yang dimaksud oleh mereka adalah keinginan yang kuat agar segera kembali menjalani perkuliahan tatap muka seperti biasa.

Memang perkuliahan sistem daring (online) sekarang sudah menggantikan “sementara” perkuliahan tatap muka, dengan berbagai kesulitan dan kehampaannya. Mengapa dikatakan sulit? Hal ini berkaitan diantaranya dengan sinyal dan ketiadaannya referensi yang memadai tatkala akan mengerjakan tugas. Sinyal yang terkadang sulit didapat, terlebih jika rumah yang bersangkutan terletak jauh dari jalur sinyal, tentu ini menjadi masalah yang membuat kepala pusing. Persoalan lain adalah ketiadaan referensi seperti, buku-buku tertentu yang sulit didapat secara digital dan hanya tersedia dalam bentuk buku cetak. Hal ini semakin parah jika buku tersebut menjadi buku utama yang harus dimiliki dan dibaca.

Pelbagai hal tersebut  hanyalah segelintir masalah yang dialami, mungkin masih banyak lagi masalah yang melanda yang tidak terekam dan diketahui. Demikianlah, para mahasiswa tentu mengharapkan agar pandemi ini segera berakhir dan perkuliahan dapat berjalan seperti biasanya. Tentu, bukan hanya hal yang telah dipaparkan tadi yang menjadi ganjalan mereka, kerinduan bertemu teman dan guru serta para dosen, bergelut dalam pengalaman organisasi, ikut serta dalam berbagai seminar dapat juga menjadi alasan yang kuat mereka untuk segera menjalani kuliah tatap muka.

Di sisi lain, ternyata kuliah bersama dengan teman-teman dan para dosen yang dilakukan secara langsung dapat memberi efek psikis yang berbeda daripada kuliah yang diselenggarakan secara daring melalui alat elektronik. Penelitian menjelaskan bahwa bertatap muka dengan orang lain dan bersentuhan secara langsung (dapat berupa berjabat tangan, merangkul, dan memeluk) dapat meningkatan kebahagiaan seseorang. Terlebih jika dikaitkan dengan aspek agama, senyuman yang dilontarkan kepada orang lain tentu merupakan ibadah yang memberikan efek luar biasa. Efek yang dihasilkan akan berbeda antara senyum yang dilakukan secara virtual dengan senyum yang dilakukan secara langsung. Ada rasa kehangatan tersendiri ketika bertemu dengan orang lain secara langsung yang tidak terasakan ketika bertatap muka melalui layar ponsel.

Lantas apa yang dapat kita lakukan sekarang? Alhamdulillah kita sekarang sedang akan berhadapan dengan Normal Baru (new normal) yaitu kondisi yang mengarah kepada kembali normalnya situasi menjadi seperti biasanya dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang diwajibkan oleh Pemerintah. Mari kita patuhi anjuran pemerintah, memanjatkan doa tiada henti kepada Allah supaya keadaan bumi kita menjadi lebih baik, serta tetap menjalani aktivitas akademik sebagaimana mestinya, walau disertai berbagai keterbatasan.

Banyak hal yang dapat dilakukan selagi menunggu dunia akademik kembali sebagaimana mestinya. Membangun suasana akademik sendiri di rumah masing masing tentu merupakan ide yang cukup bagus. Diantaranya: Menerapkan jadwal membaca dan belajar atau jika kalian yang memiliki ketertarikan dengan penerjemahan, maka menerjemahkan satu paragraf perhari bukan hal yang sulit juga. Bayangkan ketika satu  bulan berlalu, mungkin kamu dapat menyelesaikan seperempat buku yang hendak diterjemahkan. Berbeda halnya jika kamu adalah orang yang suka berkompetisi maka mengikuti berbagai perlombaan yang diselenggarakan secara online mungkin akan membuat hari-harimu berlalu lebih bermakna. Jika kamu termasuk orang yang menyukai eksakta, mengadakan penelitian sekitar rumah atau membuat penemuan kecil yang baru mungkin lebih cocok denganmu. Atau jika kamu paduan antara penulis dan ilmuan, tentu membuat cerpen ilmiah tidak salah juga kan.

Hal-hal tersebut tentunya akan menjadikan kita lebih dapat menerima kenyataan dan menjaga rasa optimisme bahwa perkuliahan yang kita jalani hari ini tidak seburuk apa yang dipikirkan dan perkuliahan secara langsung yang kita dambakan akan segera terwujud.

 

Referensi:

Ibnu Faris bin Zakariya, Abu Husain Ahmad. tt. Mujam Maqayis Al Lughah Juz 3. Beirut: Darul Fikr.

Klinkert, H.C. 1916. Maleisch-Nederlandsch Woordenboek. Leiden: E.J.Brill.

  1. Skeat, Walter. 1882. A Concise Etymological Dictionary of The English Language. Oxford: The Clarendon Press.

Wilkinson, R.J. 1901. A Malay-English Dictionary. Singapura: Kelly & Walsh Limited.

 

Penulis : Indra Gunawan