Lompat ke konten

Ilmu Al-Qur'an Dan Tafsir

Bedah Buku Sekaligus Penguatan Moderasi Beragama Bersama LPMQ Jakarta

IQT.UINSGD.AC.ID – “Moderasi Beragama”, istilah ini sering dipersepsikan sebagai antitesis radikalisme atau padanan liberalisme. Persepsi ini keliru. Moderasi beragama bukan memoderasi ajaran agama, melainkan memoderasi pemahaman dan pengamalan agama. Oleh karenanya, Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Jakarta datang bersosialisasi dan berdiskusi dengan mahasiswa dan akademisi di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung (UIN Bandung).

Bertempat di Aula Fakultas Ushuluddin Lantai 4, Kampus 1 UIN Bandung, pada tanggal 30 November 2023, LPMQ Jakarta berkolaborasi dengan UIN Bandung  menggelar acara seminar “Penguatan Moderasi Beragama Dalam Perspektif Al-Qur’an”. Selain seminar penguatan moderasi beragama, acara tersebut turut mengkritisi dan mendiskusikan buku moderasi beragama yang telah disusun oleh Tim LPMQ. Turut hadir juga Rektor UIN Bandung, Prof. Dr. Rosihon Anwar, M. Ag, dan didampingi Dekan Fakultas Ushuluddin (FU), Prof. Dr. Wahyudin Darmalaksana, M.Ag. Ruang seminar dipenuhi oleh 120 orang. Audien terdiri dari mahasiswa-mahasiswi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), Ketua Jurusan (Kajur) dan Sekretaris Jurusan (Sekjur), serta dosen-dosen FU.

Sambutan pertama diawali oleh Dr. Reflita, S.Th.I., MA sebagai perwakilan dari LPMQ. Beliau menyampaikan bahwa, UIN Bandung adalah tempat ketiga LPMQ menyelenggarakan seminar penguatan moderasi beragama. “Sebelumnya, kegiatan ini sudah terlaksana di Universitas PTIQ Jakarta, dan terakhir tanggal 8 November kita juga menyelenggarakannya di Serang, Banten bekerja sama dengan Kanwil Kementerian Agama Provinsi Banten. Dan ini kegiatan yang ketiganya,” ujar Reflita saat memberikan sambutannya, Kamis (30/11/2023).

Dalam sambutannya Rektor UIN Bandung, Prof. Dr. Rosihon Anwar, M. Ag menyampaikan ia turut andil dalam menyusun buku moderasi beragama, yakni buku Tafsir Tematik Moderasi Beragama (2022) yang menjadi pelengkap dua buku LPMQ sebelumnya. Beliau kupas tuntas buku tersebut sampai menjelaskan tiap-tiap bab yang ada. “Buku yang diterbitkan oleh LPMQ atau oleh Kementerian Agama pasti buku-buku yang bagus, dijamin mutunya karena yang nulisnya itu orang-orang yang hebat, orang-orang profesional sehingga buku ini buku yang paling otoritatif yang berbicara tentang moderasi di dalam konteks Alquran karena yang nulisnya itu orang yang otoritatif juga, yang kita sepakati semuanya sudah bisa diandalkan,” ujar Rektor UIN Bandung di depan para audien seminar, Kamis (30/11/2023).

Tambahnya, “Dari bab 1 sampai ke bab 6 itu ada munasabah-nya. Di bab 1, apa itu moderasi, lalu kita berusaha masuk lagi ke dalam, bukan hanya sebagai lapisan, kita bicara tentang apa prinsipnya. Kemudian indikator-indikatornya. Nah, indikator-indikatornya yang nulis saya, dan waktu itu saya yang menulis pertama kali selesai. Setelah masuk ke dalam, bagaimana membangun ekosistemnya moderasi beragama itu seperti apa. Sampai bab 6 itu kira-kira kalau kita sudah tergambarkan konsep moderasi beragama dalam Alquran apa sebenarnya yang menjadi teladan dalam penerapan moderasi beragama ini. Kemudian kita masuk pada potret-potret moderasi beragama,” ujar Rektor UIN Bandung.

Dr. Muchlis M. Hanafi, MA, salah satu tim penyusun buku moderasi beragama mendiskusikan buku tersebut bersama seluruh peserta seminar. Salah satunya yang beliau bahas ialah peristiwa nine eleven Tahun 2001, yang membuat Islam dan umat Islam menjadi pihak yang tertuduh sehingga banyak Negara Islam yang melakukan campaign tentang Islam yang sejatinya rahmatan lil ‘alamiin.

“Yordania Tahun 2004 itu mendeklarasikan apa yang mereka sebut dengan Amman Massages, kemudian Saudi Arabia membela diri dengan konsep bagaimana membangun ketahanan pemikiran keagamaan, Mesir dengan Al-Azhar-nya sudah lama mengenalkan apa yang disebut Wasatiyyatul Islam, dan Tahun 2009 bersama Menteri Agama, waktu itu konferensi menteri-menteri agama di dunia Islam, itu bahasan utamanya tentang Wasatiyyatul Islam,” tuturnya saat sesi bedah buku, Kamis (30/11/2023).

Ketika salah satu audien mengajukan pertanyaan pada pemateri tentang moderasi beragama yang digawangi oleh Kementerian Agama (Kemenag), dalam konteks “Konsep”, apakah itu satu-satunya sehingga tidak ada tafsir lain atau tidak memberikan ruang bagi orang untuk mengalami nuansa keagamaan yang sesuai dengan jati dirinya? Hal itu langsung saja ditanggapi oleh Dr. Muchlis M. Hanafi, MA, “Kalau soal keyakinan silahkan meyakini apa saja yang menurut kita benar, tapi ketika kita hidup bersama dalam sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, yang harus kita jaga adalah keutuhannya. Maka, cara pandang, sikap, dan praktik beragamanya itu harus yang bisa menjaga kerukunan bersama.”

Setelah acara berakhir, beberapa peserta seminar merasa senang karena mendapatkan buku moderasi beragama yang dibagikan gratis oleh LPMQ Jakarta. Selain itu, tanggapan dari mahasiswa juga bernada positif, seperti yang dituturkan oleh mahasiswa IAT UIN Bandung semester 5, Adnan Sulaiman. “Saya sangat setuju sekali dengan konsep moderasi beragama bahwasanya, moderasi itu adalah suatu sikap bagaimana kita bisa memiliki kehidupan yang harmonis, yang damai, tentram, dan dengan adanya moderasi beragama ini kehidupan di masyarakat akan lebih teratur, terarah, tidak ada konflik, dan sebagainya.”

Tim Pers HMJ IAT UIN Sunan Gunung Djati