Saat ini dunia tengah digemparkan dengan suatu wabah yang bisa dikatakan sangat mengerikan. Bagaimana tidak, hampir seluruh negara di dunia sangatsangat berwaspada terhadap virus yang satu ini yakni virus corona atau yang biasa disebut covid-19. Setiap hari, media massa selalu memberitahukan update terkini tentang virus ini baik itu dalam televisi, internet, koran, dan media kabar lainnya. Maa syaa Allah, apa yang sebenarnya terjadi saat ini? apakah dunia atau alam semesta ini marah pada penghuninya? Atau bahkan Sang Pencipta dan Pemilik alam semesta ini yang marah terhadap makhluknya yang selalu mementingkan ego dan tidak bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh-Nya? Entahlah, yang pasti hari ini, detik ini semua manusia di bumi ini seolah-olah sedang berperang melawan virus ini agar segera musnah dan tidak meresahkan kembali.

Covid-19 pertama kali menyebar di kota Wuhan, China. Tak lama kemudian dalam beberapa minggu virus ini telah tersebar di beberapa negara. Hingga tercatat dalam beberapa situs berita menyatakan bahwa sudah ada lebih dari 180 negara yang terjangkit virus ini. Awalnya virus ini menimbulkan gejala-gejala seperti flu biasa, yaitu pilek, sakit tenggorokan, dan juga demam. Namun, jika dibiarkan tanpa ada penanganan yang segera dari medis, ini bisa berujung pada hal yang tidak diinginkan oleh banyak orang yaitu kematian.

Selain daripada efek yang dirasakan oleh orang yang terinfeksi, virus ini juga sangat memberikan banyak efek bagi kehidupan manusia. Terutama dalam kehidupan sosial dan agama. Dimana saat ini manusia sangat dibatasi untuk melakukan interaksi satu sama lain. Hampir seluruh sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia mengubah metode pembelajaran menjadi sistem daring (online), bahkan pemerintah pun sudah menyatakan bahwa Ujian Nasional akan ditiadakan pada tahun ini. Selain itu, kegiatan ekonomi fisik banyak dihentikan, beberapa perusahaan juga menerapkan bekerja dari rumah (work from home) kepada para karyawannya, juga kegiatan peribadatan yang biasa diikuti banyak orang diimbau untuk dihentikan sementara selama wabah ini belum berakhir. Hal ini sejalan dengan postingan Presiden Indonesia di salah satu media sosialnya yakni anjuran untuk belajar dari rumah, bekerja dari rumah serta ibadah di rumah.

Tak bisa dipungkiri bahwa saat ini teknologi pun menjadi sarana utama warga dalam menjalankan aktivitasnya, baik itu belajar, bekerja, ataupun hanya menyapa menanya kabar pun harus melalui teknologi, salah satunya menggunakan ponsel.  Tapi setelah berjalan dalam beberapa minggu, warga mulai resah karena ketidaknyamanan menggunakan teknologi hampir dalam seluruh kegiatannya.

Banyak kendala yang dirasakan terutama di kalangan pelajar. Seperti kekurangan kuota, jaringan signal kurang bagus terlebih lagi di daerah pedesaan. Ketika pelajar dituntut untuk belajar daring seperti saat ini, secara tidak langsung mereka juga dituntut harus untuk siap selalu aktif/online, dan hal ini tentu membutuhkan kuota juga signal yang bagus tanpa putus-putus. Sedangkan tidak setiap pelajar memiliki kuota yang memadai dang signal yang mendukung, bahkan diantara mereka ada yang tidak mendapat uang saku sepeti biasa layaknya ketika pergi belajar ke kampus atau sekolah.

Adapun bagi masyarakat menengah ke bawah, seperti ojek, angkutan umum, warung-warung kecil di pinggir jalan, mereka merasakan kekurangan pemasukan. Disebabkan tidak banyaknya orang yang beraktivitas di luar seperti biasa. Akan tetapi, di sisi lain ada juga beberapa orang yang menimbun alat-alat kebutuhan medis, seperti masker, hand sanitizer, alkohol, dan sebagainya. Tujuannya tidak lain adalah bisnis, mereka memahalkan harga-harganya dan mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya.

Selain itu, dalam kegiatan beribadah juga tidak seramai seperti biasa. Banyak di beberapa wilayah terutama di wilayah yang menerima keluar masuk non pribumi, disana shalat jumat diganti dengan shalat dzuhur di rumah masing-masing. Kemudian kajian-kajian agama pun diberhentikan sementara. Hal ini dilakukan tentu semata-mata untuk memutus penyebaran covid-19 agar tidak berlangsung lama.

Berangkat dari kendala-kendala yang telah disebutkan di atas, disini penulis memiliki pandangan bahwasanya pemerintah atau lembaga terkait diharapkan untuk dapat menangani kendala-kendala yang dihadapi ketika dilakukan pshycal distancing ini, seperti halnya di kalangan mahasiswa ataupun pelajar yang memiliki masalah dalam hal kuota untuk menunjang kegiatan pembelajarannya. Begitu juga bagi masyarakat yang masih harus mencari uang di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan ekonominya, pemerintah ataupun dari tokoh masyarakat juga selayaknya bisa menghandle kendala-kendala yang mereka hadapi. Selain itu, untuk kegiatan peribadahan juga memang setuju seperti yang telah dianjurkan pemerintah dan fatwa-fatwa para ulama yakni diberhentikan sementara, karena hal ini bisa meminimalisir penyebaran covid-19.

Akan tetapi, dibalik peristiwa yang terjadi saat ini juga memiliki banyak hikmah. Dari covid-19 ini, setiap orang harus selalu menjaga kebersihan dan kesehatan, baik itu bagi tubuhnya maupun lingkungan sekitarnya. Lalu, dari sini juga belajar bahwa harus selalu menghargai dan memanfaatkan momen-momen pertemuan secara langsung baik itu ketika belajar di kelas, bekerja di tempat pekerjaan, juga acara-acara lainnya yang secara tidak langsung memberi kesan pentingnya kebersamaan. Terakhir, dari covid-19 juga kita belajar juga bahwa Allah tidak semata-mata menciptakan makhluk kecil ini sebagai ujian bagi kita semua. Akankah kita bersabar atas adanya ujian ini dan menyadari bahwa sebagai makhluk  yang memiliki kemampuan tebatas, yang tidak mempunyai daya dan upaya selain atas pertolongan dari-Nya. Dan inilah saatnya kita sebagai manusia khusunya bagi warga Republik Indonesia untuk saling membantu, bahu membahu satu sama lain tanpa melihat apa latar belakangnya, bukan hanya mementingkan diri sendiri.

Wallahu a’lam bi ash-shawab..

Penulis : Siti Nurfitriani Wardah ( Mahasiswa IAT 2018)