Manusia itu saling berkaitan satu sama lain dan setiap perbuatan yang dilakukannya akan melahirkan dampak positif dan negatif.

Pada 31 Desember 2019, Dunia kedatangan tamu yang singgah di kota Wuhan, Cina,  yang disebut virus corona (covid-19), lantas siapa yang mengundang dan kenapa harus diwuhan, Cina? Menurut saya, tidak akan ada balasan tanpa didahului oleh perbuatan dan mungkin tamu itu datang karena diawali perbuatan yang dilakukan penduduk dunia khususnya warga negara Cina yang pada hakikatnya sudah menjadi ciri khas dalam hal pasar dan makanan yang sering dikonsumsi warga cina adalah “hewan yang aneh-aneh”. Mungkin itulah opini saya sebagai warga Indonesia yang beragama Islam meskipun tidak banyak ilmu yang saya ketahui namun dalam hal hewan yang halal dan baik untuk dikonsumsi dan cara mendapatkannya sudah jelas di dalam Al-Qur’an dan diperjelas dalam Hadist.

Namun hal aneh opini saya tersebut di anggap biasa oleh warga Cina sehingga mereka tidak menyadari dan memikirkan akibat dari perbuatan itu karena menurut mereka bahwa hal tersebut sudah biasa dilakukan sampai pada waktunya terdapat suatu kasus yang serius. Memang kelakuan sebagian manusia suka mengabaikan suatu kalimat yang bersifat “himbauan/peringatan”, seperti “mencegah lebih baik daripada mengobati” atau “penyesalan itu suka datang diakhir”. Kata-kata tersebut oleh sebagian orang malah disikapi dengan santainya dan tidak menghiraukan hal tersebut karena menggangap hanya hal kecil belum besar atau bisa karena belum merasakan. Lantas kenapa titik kecil atau tamu yang singgah Wuhan, Cina tersebut harus menjadi titik besar yang mengelilingi dunia? Jawabannya, karena manusia itu saling berkaitan satu sama lain.

Hanya dalam rentan waktu 1 sampai 4 bulan, covid-19 sudah memakan ribuan korban jiwa. Namun bukan hanya ribuan nyawa yang telah hilang, akan tetapi virus corona ini telah mengubah keberlangsungan tatanan kehidupan manusia, seperti dalam aspek sosial. Kasus yang paling menonjol menurut saya adalah turunnya nilai kepercayaan dan adab penghormatan kepada seseorang, contohnya tatkala kita bertemu teman, sodara atau karib keluarga secara berpapasan tanpa disengaja atau pun disengaja, pertanyaan yang pertama kali muncul adalah “apakah dia negatif dari virus corona atau positif dari virus tersebut? ” tentunya hal itu merupakan awal dari hilangnya rasa kepercayaan dengan ditandai kecurigaan yang begitu amat besar tanpa melihat mereka teman, sahabat, sodara, kakak, adik bahkan orang tua kita yang setiap harinya terus bekerja karena keputusan dari perusahaan terkait ataupun sebab lainnya sehingga pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan, seperti pegawai swasta, pegawai pabrik, penjahit, petani dan lain sebagainya.

Selain dampak pada aspek sosial, covid-19 ini juga sangat berdampak pada aspek agama, seperti hal yang paling menonjol menurut saya adalah dalam hal beribadatan kepada Tuhan ataupun hari peringatan suatu peristiwa besar suatu agama. Contoh kasus hal yang masih hangat dan belum lama terlewati dikalangan umat Islam yaitu isra mi’raj Nabi Muhammad saw. yang pada umumnya mengelar suatu pengajian atau tabligh akbar.

Akan tetapi, pada edisi tahun ini peringatan sejarah besar umat Islam itu menjadi sangat berbeda dengan edisi-edisi sebelumnya, seperti dimana biasanya ramai pengajian disetiap mesjid atau disuatu lapangan yang cukup luas untuk mengelar tabligh akbar menjadi tidak terlihat dan tidak muncul ditahun ini karena pengaruh dari covid-19 yang membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan agar orang-orang tidak berkerumun atau bahkan melarang orang-orang untuk keluar dari rumah sehingga sangat susah mewujudkan peringatan seperti biasanya.

Selain itu terdapat juga kebijakan yang viral dan mendunia khususnya di Indonesia yang mayoritas muslim yaitu meniadakan sholat berjama’ah dan sholat jum’at  selama 2 pekan dan bisa saja diperpanjang, tentunya hal itu sangat berdampak dalam masalah tatacara peribadatan kepada Allah swt. dan masih banyak dampak lainnya yang sederhana, seperti tidak lagi berjabat tangan padahal dalam ajaran agama Islam disebutkan bahwasanya apabila seorang bertemu dengan seseorang lainnya lalu mereka bersalaman maka Allah swt akan mengampuni dosa mereka sebelum jabatan tangan mereka terlepas akan tetapi dengan adanya kasus ini hilangkan amalan pahala tersebut, contoh lainnya yaitu tatkala kita memaksakan diri sholat dimesjid terdapat beragam berbijakan dalam masalah barisan shalat, seperti ada yang rengang, zigzag, melewati satu baris dan lain sebagainya yang saya temukan. Belum lagi dalam masalah sarana dan prasana ibadah, seperti membawa sejadah, al-qur’an dan lainnya secara inidividual untuk keberlangsungan ibadah tersebut. Hal tersebut tidak hanya terjadi kalangan umat Islam melainkan umat lainnya seperti kristen, yahudi, hindu, budha, seperti peringatan imlek dan lain sebagainya. Faktor yang paling dominan adalah menghindari bersentuhan dan berkerumun dan lebih bersikap jaga-jaga.

Wabah covid-19 sejatinya merupakan hal yang amat negatif karena efek yang dihasilkannya sangatlah banyak merugikan penduduk bumi. Akan tetapi sebaiknya kita juga memikirkan sisi positif dari wabah ini, diantaranya dalam aspek sosial, yaitu dengan adanya wabah ini semakin menyadarkan kita bahwa solidaritas itu merupakan kekuatan yang amat kuat dan penting dalam keberlangsungan kehidupan yang rukun, aman, damai lagi sejahtera dan mungkin gk bakalan ada perang-perang atau pertikaian yang menyebabkan suatu kerugian.

Kemudian dari aspek agama, selain menambah rasa toleransi antar umat bergama yang sama-sama berjuang melawan covid-19 ini dengan tata cara beribadatannya masing-masing kepada Tuhan-Nya. Terdapat pelajaran positif lainnya yang tidak kalah penting, yaitu menyadarkan kita bahwa kekuatan yang paling kuat adalah dari Allah swt dan bisa juga sebagai perantara guna  menyadarkan kita untuk kembali ke jalan ajaran agama yang benar (Islam) dan berhenti membantahnya seperti mengkonsumsi yang tidak baik apalagi haram.

Selain itu masih banyak pelajaran lain yang bisa ambil diantaranya dari kebijakan pemerintah terkait covid-19 ini, contoh dalam masalah dilarang berkerumun dan keluar rumah dilihat dari aspek sosial berdampak terhindarnya dari kerumanan-kerumanan yang bisa menyebabkan pergaulan bebas, mabal sekolah, kenakalan remaja, dan lainnya. Kemudian dari aspek agama berdampak mengurangi kemadharatan atau hal-hal negatif yang mendatangkan dosa kecil maupun dosa besar, seperti gibah, judi, meminum miras, narkoba, seks bebas/zina, maupun terhindar dari melihat atau menyentuh seseorang yang tidak layak untuk dilihat maupun disentuh (mahram).

Pada hakikat covid-19 itu merupakan musibah yang banyak mendatangkan sisi negatif pada dunia. Akan tetapi jika dipelajari lebih dalam bisa saja itu merupakan pesan dari Tuhan agar kembali pada hal-hal positif yang berupa ajaran agama (Islam) sering dilanngar ataupun dilupakan.

Oleh karena itu, sudah waktunya kita mengangkat kepala kita dan berdiri tegak sambil tidak sedikit pun mengurangi rasa hina kita dihadapan Allah swt. karena sejatinya manusia itu memang tempatnya salah, khilaf atau bahkan berbuat dosa kecil dan dosa besar. Belum lagi terkadang dengan santainya kita tidak menghiraukan atau bahkan tidak menyadari kesalahan yang telah kita berbuat. Dan sebaik-baiknya jalan adalah bertaubat kepada Allah swt. dan memohon pertolongan dan perlindungan hanya dari-Nya.

 

Penulis : Teguh Saputra (Mahasiswa IAT 2018)