Lompat ke konten

Ilmu Al-Qur'an Dan Tafsir

DIALOG AL-QUR’AN DAN PANDEMI GLOBAL (Musibah sebagai Ladang Muhasabah)

Corona tentara Tuhan, untuk menghabisi negara kafir”, “covid-19 senjata biologis China”, “corona ulah Illuminati’, “Jangan takut Corona, takut hanya pada Tuhan”. Ujar-ujar yang tidak pernah reda memeuhi beranda.

Terhitung sejak akhir tahun 2019, kegaduhan tingkat global merebak keseluruh rusuk dunia. Dimulai dari munculnya virus Corona di China, ditambah dengan semakin meningkatnya konsumen media sosial terkhusus di Indonesia, maka bumi pertiwi sedang dilanda dua wabah besar skala nasional. Pertama, Covid-19 yang telah memakan ribuan korban serta kasusnya sedang diteliti dan ditaangani medis seluruh dunia. Kedua, wabah berita-berita hoax, isu-isu propaganda, serta gorengan-gorengan fitnah dan ghibah yang anehnya begitu mudah diimani dan diamini begitu saja.

Tahun 2020, memiliki peristiwa yang akan terkenang dalam catatan sejarah. Munculnya virus corona di Wuhan, China, akan menjadi hal paling diingat seluruh penduduk bumi dalam rangkaian cerita di masa yang akan datang. Peristiwa wabah covid-19 yang belakangan dideklarasikan sebagai kasus pandemi global oleh World Health Organization (WHO) memaksa seluruh penduduk bumi mengisolasi diri dalam rumah masing-masing. Tidak hanya itu, pandemi covid-19 ini telah menutup sekian ribu pabrik industri, memaksa sekolah, kampus, bahkan instansi untuk bekerja, belajar, dan berkegiatan di rumah. Hingga ruang lingkup kehidupan seolah ada dalam masa tenggang panjang yan dikurung makhluk nano berukuran 150 nanometer. Banyak manusia merasa dirugikan dengan wabah ini, namun bagi sebagian orang efek negatifnya dikonversi menjadi peluang menghasilkan uang, dengan berjualan masker, handsanitizer, dagang hadis-hadis palsu yang dicocokologi dengan kiamat kubra, konspirasi, hingga artikel-artikel disinformasi yang tujuannya tidak pernah jauh dari politik, perut dan kekuasaan.

Belakangan, banyak orang berkomentar dengan wabah covid-19. Mulai ahli kedokteran, ahli sains, orang awam yang seolah mendadak menjadi ahli ‘musiman’ tanpa latar belakang ilmu yang kompeten, hingga beberapa oknum pemegang panggung-panggung ceramah yang tak sedikit berupaya mamaksakan wabah sebagai bentuk azab Tuhan. Berbagai ayat dilontarkan, dibubuhi nafsu sesak seolah ‘mereka’ lebih layak mendapat azab dibanding ‘kita’ (katanya), yang terbiasa munafik di hadapan Tuhan. Dengan terbahak tawa saat corona melumat China, dan mulai ketar-ketir ketika pandemi mulai menjamah negeri sendiri.

Apakah dari kita pernah menelaah lebih jauh firman Allah Swt? Yang termaktub dalam Qs. At-Thagabun ayat 11 dan Qs. Al-An’am ayat 59

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan setiap orang yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”  Qs. At-Taghabun (64): 11

Dan ayat:

وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِى ظُلُمَٰتِ ٱلْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مُّبِين

Artinya : “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” Qs. Al-An’am (6) : 59

Mentadabburi sejenak dua ayat di atas, harusnya sudah menjatuhkan diri kita ke dasar pangkuan bumi, bersungkur sujud meminta ampun kepada-Nya. Sebab kita telah sering mencatut nama-Nya yang Maha suci dalam men-judge hamba-Nya yang lain atas dasar keakuan dan keangkuhan.

Kemudian tidaklah jarang personal dari kita mengutip ayat:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Qs. Ar-Rum

Lagi-lagi, kita berupaya menodongkannya kepada orang lain, tanpa rasa malu padahal bisa saja musibah yang menimpa orang lain adalah atas dasar kecerobohan dan kesombongan yang tertanam dalam di hati kita masing-masing. Padahal kita juga tentu pernah mendengar ayat: “Allah tidak akan menyiksa mereka selama kamu ada di tengah mereka. Dan Allah tidak akan menghukum mereka, sementara mereka memohon ampun.”Qs. Al-Anfal (8) : 33

Lantas apa yang kita lakukan? Jika saat ini wabah telah masuk masing-masing daerah kita, lalu istighfar-istighfar yang telah kita lantunkan setiap hari setiap waktu. Apa maknanya? Kemana larinya lafal-lafal tasbih, tahmid, tahlil yang sering kita rapalkan? Apa mungkin Tuhan berbohong dengan kalam-Nya?. Mari kita berkaca kembali, memastikan kalimat-kalimat yang kita baca setiap hari, apakah benar itu berstatus dalam istighfar makna memohon ampunan Allah Swt? Atau hanya kedok kemunafikan saja yang dibungkus sedemikian rupa dengan topeng-topeng agama padahal isinya hanya keangkuhan dan keburukan hati kita kepada Tuhan dan sesama manusia?

Kemudian jika ada dari orang saleh yang terkena wabah covid-19 ini. Apa kita juga layak berkata azab, siksa, “rasakan!”, dan “binasakan!”?

Sungguh keangkuhan pada diri yang telah merajalela. Hingga hati kita seolah tertutup untuk membaca ayat: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari dosa-dosamu.”(QS Asy-Syura: 30).

Sebagai kifarah atas kesalahan-kesalahan yang lalu, dan karena sesungguhnya tiada satu orang pun dari umat Rasulullah Saw yang murni bersih dari berbuat salah dan dosa. Dan bagi mereka para kekasih Allah Swt, ujian adalah dalam rangka untuk meningkatkan derajat yang lebih mulia, lebih dengan dengan Allah Swt dan Rasulullah Saw. Sebagaimana kita ketahui bahwa sekelas sahabat Muadz bin Jabal pun, ikut wafat dalam wabah yang melanda manusia di masa kekhalifahan Umar Ra.

Singkatnya, sebaiknya kita tidak menambah beban para ulama dan Umara dengan terus memperburuk keadaan dengan berburuk sangka, saling tuduh, caci mencaci, berdebat masalah salat jum’at, hingga mengaitkan dengan cerita silam pemilu 2019 yang harusnya telah dilupakan. Maka dari itu, mari bergotong royong, saling mendukung, bahu membahu, bertaubat secara nasuha dengan mengaki segala kealpaan diri, dan tentu mendorong pemerintah dan tim medis agar wabah ini secepatnya dihilangkan dari muka bumi.

Wallahu A’lam..

Penulis : Muhammad Ihsan (Mahasiswa IAT 2016)