Lompat ke konten

Ilmu Al-Qur'an Dan Tafsir

Dibalik Kampus Kosong

Dibalik Kampus Kosong

oleh: Siti Sa’adah

 

Bumi Bandung yang selalu membuat hati dirindung pilu, rindu menggebu-gebu dan pikiran tak menentu. Kini, kembali dipijak kakiku untuk memecahkan celengan-celengan rindu yang sudah sejak lama ditabung. Langit sore yang begitu indah, suasana Kota Bandung yang selalu menghangatkan hati dan semua yang saat ini ada di hadapanku membuat diri ini untuk memuji dan mengagungkan sang ilahi. Kupandangi sekeliling tempat ini dengan wajah yang berseri, tak sabar untuk menjumpai hal-hal yang selama ini dinanti.

Namaku Fatimah, teman-teman biasa memanggilku Fafa. Aku mempunyai dua sahabat yang selalu ada di kala suka dan duka. Mereka adalah Sarah dan Vania. Kami bertiga akan bertemu di kampus tercinta untuk kembali bersua dan menengok kampus tercinta. Sejak pandemi merebah di negeri pertiwi, kami semua dipisahkan oleh jarak, tak hanya itu kami dipulangkan ke kampung halaman masing-masing untuk kuliah dengan daring (dalam jaringan).

Kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang dilonggarkan pemerintah membuat Aku dan kedua sahabatku bisa merencanakan untuk bersua dan menengok kampus tercinta. Kedua sahabatku sudah sampai duluan di kampus, sehingga Aku harus segera menyusul mereka. Mereka menungguku di gedung kuliah fakultas kami.

Langkah demi langkah kakiku memasuki kampus, terasa susana kampus yang tidak seperti biasanya, sepi, dingin dan asing. Angin ynag berhembus cukup kencang membuat daun-daun berguguran dan mengotori jalanan kampus. Sungguh miris diri ini melihat kondisi kampus yang seperti ini, sepi, tidak berpenghuni, kotor dan hampa. Ingin rasanya segera kembali melakukan berbagai aktivitas di kampus tercinta ini.

Langkahku dipercepat karena tidak enak jika kedua sahabatku menunggu lama. Kususuri jalanan kampus dengan melewati gedung-gedung yang menjulang tinggi. Rasa rinduku semakin menggebu karena terbayang para mahasiswa yang biasanya ada di gedung-gedung tersebut  melakukan aktivitasnya masing-masing.

Tiba-tiba ada sesuatu yang aneh, bulu pundukku mendadak merinding. Aku mendengar suara yang halus dan seakan-akan ingin berbicara denganku.

“Neng”

“Suara itu….,” gumamku dalam hati yang sedang merintih ketakutan.

Suara itu semakin jelas dan mendekat,  membuat Aku sangat ketakutan. Rasa penasaranku yang besar  membuatku perlahan membalikkan badan untuk mengecek.

“Aaaaaaaaaa han..han..hantuuuu,” Aku berteriak dengan sangat kencang.

“Astagfirullah neng, saya bukan hantu. Saya petugas keamanan di kampus.” Ucap Bapak petugas keamanan kampus sambil tersenyum dan menenangkan.

Aku pun tersipu malu karena telah menuduh Bapak petugas keamanan sebagai hantu.

“Kalau saran bapak, mending neng pulang aja udah sore. Memangnya neng gak takut mengitari kampus yang sepi ini?”

“Heee… gimana ya pak, saya sudah janjian sama teman-teman saya untuk bertemu di gedung kuliah. Pengen temu kangen gitu pak hee.”

“Yasudah kalau itu mau nya neng, tapi hati-hati ya. Soalnya…. ya gitu deh neng, bapak kembali ke pos dulu ya.” Bapak petugas keamanan pun pergi.

“Hmm maksud bapak yang tadi apa ya kok aku jadi penasaran gini, yasudahlah aku lanjutkan saja perjalananku,” gumamku dalam hati yang menjadi sedikit ketakutan.

Setelah berjalan kaki yang cukup melelahkan akhirnya Aku sampai juga di gedung kuliah. Kususuri koridor kelas yang sangat sepi,  tempat yang dulu dipenuhi oleh teman-temanku belajar bersama, diskusi, presentasi, canda tawa dan hal lainnya yang membuat rasa rinduku semakin menggebu. Begitu sampai di tempat janjian kami bertiga, Aku tidak mendapati seorangpun disana, tidak ada kedua sahabatku. Hari semakin gelap, tetapi aku masih belum bertemu dengan temanku. Kucoba untuk menghubungi mereka, tetapi tidak diangkat. Aku pun mulai ketakutan.

Lampu gedung kuliah tiba-tiba mati-nyala, angin berhembus dengan kencang dan suasana menjadi mencekam. Tiba-tiba ada yang menahan kakiku untuk pergi, sehingga badanku menjadi kaku dan tidak bisa melarikan diri. Aku pun berusaha untuk mengangkat kakiku yang terasa berat, tetapi terus-menerus gagal. Tiba-tiba ada suara yang tidak diketahui darimana suara itu berasal.

“Hai mahasiswa, mau apa kamu kesini? Apakah kamu rindu dengan kampus? Kampus yang hanya tempat main-mainmu, yang harusnya kamu pakai untuk belajar dan melakukan hal bermanfaat lainnya. Aku tidak suka kamu dan teman-temanmu memenuhi tempat ini, hanya membuat gaduh saja tetapi tidak serius belajar. Biarlah tempat ini menjadi tempat tinggal kami. Lagian kalian sudah lama tidak lagi pakai gedung ini, jadi sekarang ini tempat kami. Hihihihihi….”

Aku sangat ketakutan, kulihat sekelilingku gelap, mencekam, dan hanya ada suara yang sangat menyeramkan itu tanpa menampakkan wujudnya. Dalam hati Aku berdoa kepada Allah swt. Untuk melindungiku dari segala godaan dan gangguan makhluk jahat. Tidak hanya itu, Aku pun membaca segala doa dan ayat alquran untuk mengusir makhluk halus. Tak lama kemudian, lampu pun kembali menyala, suara itupun hilang, dan kakiku kembali ringan sehingga Aku segera melarikan diri. Dengan nafas yang terengah-engah Aku pun lari untuk pergi ke tempat yang aman dan mencari pertolongan.

Aku berpikir lebih baik aku pergi ke ruang dosen, karena pasti ada dosen yang sedang bekerja disana. Benar saja ketika aku sampai di depan ruang dosen, Aku melihat seorang dosen yang cukup akrab denganku sedang duduk dengan tatapan kosong. Perasaanku sangat lega.

Ketika melihat ruang dosen ini, Aku teringat dulu sebelum pandemi Aku sangat sibuk untuk menemui para dosen yang luar biasa. Aku sering berkonsultasi, menanyakan pelajaran, meminta dukungan untuk kegiatan organisasi dan masih banyak lagi yang membuatku sangat merindukan semua itu.

“Assalamu’alaikum bu, maaf saya mengganggu ibu. Saya tadi mendengar suara yang menyeramkan di gedung kuliah. Saya boleh disini sebentar bu, sambil menunggu kabar dari teman saya. Saya takut ada sosok itu lagi mengganggu saya.” Ucapku dengan nada memohon.

Ada yang aneh, Bu Jelita yang biasanya periang ini tidak tahu kenapa sikapnya menjadi dingin. Beliau hanya merespon dengan anggukan saja. Mukanya pun pucat dan tatapannya kosong. Tapi Aku tidak terlalu menghiraukannya, mungkin beliau sedang ada masalah atau sakit.

“Maaf bu, kalau saya boleh tahu ibu kenapa ya tidak seperti biasanya?” Aku pun memulai percakapan di tengah keheningan suasana.

“Ibu sedih belum bisa mendidik anak-anak didik ibu dengan baik. Mereka masih banyak yang tidak menguasai bidang kejurusannya, dan yang lebih parahnya mereka terlihat tidak serius dalam belajar. Apalagi akhlaknya yang tidak beradab kepada dosen, ibu selalu sakit hati atas perlakuan para mahasiwa yang tidak menuruti pepatah ibu, tidak memerhatikan ibu ketika mengajar di kelas, terkadang menentang, mengejek di belakang dan masih banyak lagi. Tetapi, ibu selalu berusaha memaafkan tingkah-tingkah mahasiswa yang seperti itu. Ibu harap kamu selalu menjadi mahasiwa yang baik dan membanggakan ya fa.” Jelas Bu Jelita dengan nada sedih. Air matanya pun menetes.

Aku pun sedih dan mengangguk untuk berusaha menjadi mahasiswa baik seperti yang diharapkan Bu Jelita. Suasana pun menjadi hening kembali. Aku pun mengecek handphone untuk mendapat kabar dari temanku, tetapi belum ada kabar juga tentang mereka. Tiba-tiba ada notifikasi dari grup kelas yang sangat mengejutkan dan membuatku merinding. Isi pesan itu mengabarkan bahwa salah satu dosen kampus kami ada yang meninggal dunia siang tadi karena kecelakaan. Dan dosen yang meninggal tersebut yaitu Bu Jelita. Sontak bulu punukku merinding.

“Berarti yang sedang dihadapanku ini siapa?” Tanyaku dalam hati. Aku pun meringis ketakutan.

Perlahan kuangkat kepalaku untuk memastikan Bu Jelita yang ada dihadapanku ini. Dan yang kulihat sosok wanita yang menyeramkan, mukanya abstrak penuh dengan luka parah. Aku pun sontak menjerit ketakutan.

“Aaaaaaaaaaaaaa.”

***

“Aaaaaaaaaaaaaa.”

“Fafa, fafa bangun nak. Kenapa kamu kok teriak-teriak begitu?”

“Syukurlah, ini hanya mimpi.”

“Kamu memang mimpi apasih, nyampe teriak-teriak gitu?”

“Pokoknya Aku mimpi buruk mah.”

“Yasudah kamu minum dulu, udah itu shalat dzuhur  ya.”

Setelah shalat dzuhur, di atas hamparan sajadah Aku masih kepikiran mimpi buruk tadi. Saking rindunya kuliah offline sampai terbawa mimpi. Aku jadi takut saking lamanya kampus kosong, jadi tempat tinggal makhluk halus. Mudah-mudahan saja tidak seperti itu. Tetapi dari mimpi tersebut aku mendapat pelajaran. Pertama, sebagai mahasiswa Aku harus belajar dengan sungguh-sungguh, menggunakan gedung kuliah sebaik mungkin untuk belajar atau hal bermanfaat lainnya. Kedua, sebagai mahasiswa Aku harus menghormati dosen.

Aku janji ketika nanti sudah kembali kuliah offline Aku akan berusaha menjadi mahasiswa yang baik. Akan aku tumpahkan rasa rindu saat ini ketika nanti sudah kuliah offline dengan belajar sungguh-sungguh, menjaga lingkungan kampus, menghormati dosen, menyayangi teman dan akan menunjukkan kepada orang tuaku bahwa aku adalah mahasiswa yang membanggakan.

Sudah tidak tahan menahan rindu yang menggebu ini. Aku ingin kembali belajar di kelas, bertemu teman-teman, bertemu dengan para dosen, mengerjakan tugas di perpustakaan, jajan di kantin dan masih banyak lagi.

“Fafa, kok malah melamun gitu. Mamah minta tolong dong sayang, beliin mamah telur sama sayuran di pasar.”

“ Ok mah, tapi nanti ya mah setelah beres kuliah online.”

“Yah kelamaan dong kalau gitu sayang, mamah kan perlunya sekarang. Lagian kamu kan biasa kuliah online sambil ke pasar, makan, masak, nonton TV, bahkan main sama temen kamu.” Sahut mamahku sambil terkikik.

“Iiih mamah, jangan bilang gitu dong Aku kan malu.” Aku pun tersipu malu karena itulah yang aku lakukan ketika kuliah online.

“Yasudah sana hati-hati ya.”