Lompat ke konten

Ilmu Al-Qur'an Dan Tafsir

K.H. AHMAD SANUSI: MUFASSIR SEKALIGUS PAHLAWAN NASIONAL DARI SUKABUMI

  • oleh

oleh: Raihan Sabdanurrahmat

K.H. Ahmad Sanusi merupakan seorang tokoh besar yang dimiliki bangsa Indonesia, K.H. Ahmad Sanusi sendiri dilahirkan di Sukabumi, tepatnya pada hari Jum’at tanggal 12 Muharram 1306 H, bertepatan dengan tanggal 18 September 1888 M di Kampung Cantayan, Desa Cantayan, Kecamatan Cikembar Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. K.H. Ahmad Sanusi dalam kiprahnya untuk mengabdi kepada negara telah memberikan banyak kontribusi dalam perkembangan agama dan dalam proses kemerdekaan Indonesia.

Selain dari pada seorang tokoh muffasir K.H. Ahmad Sanusi juga merupakan seorang pahlawan nasional meskipun belum ditetapkan secara resmi, namun kiprahnya dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia tidak bisa diragukan lagi. Berbagai penghargaan telah disematkan kepada K.H. Ahmad Sanusi diantaranya adalah bintang maha putera utama pada tanggal 12 agustus 1992 pada era pemerintahan Presiden Soeharto. Lalu pada era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudoyono, K.H. Ahmad Sanusi dianugrahi bintang maha putera adipradana pada tanggal 10 November 2009.

Perjuangan dalam Bidang Politik

K.H. Ahmad Sanusi mulai memasuki dunia politik pertama kali ketika beliau masih belajar di Mekkah, diawali saat pertemuannya dengan Abdul Muluk yang merupakan tokoh Serikat Islam, kemudian K.H. Ahmad Sanusi setuju untuk bergabung dengan Serikat Islam setelah melihat anggaran dasar (AD)-nya yang bertujuan untuk melepaskan ketergantungan pribumi terhadap negara asing.

Pada tahun 1915 K.H. Ahmad Sanusi sempat menjadi dewan penasihat Serikat Islam, namun tidak berlangsung lama karena K.H. Ahmad Sanusi tidak setuju dengan sistem sentralisasi khas Serikat Islam. Kemudian pada tahun 1931 selama masa pembuangan pasca ditahannya K.H. Ahmad Sanusi oleh jepang, beliau mendirikan perhimpunan Al Ittihadiyatul Islamiyah (AII) yang kemudian berganti nama menjadi Persatuan Ummat Islam Indonesia (PUII) pada tahun 1943, pada puncaknya K.H. Ahmad Sanusi menjadi anggota BPUPKI yang salah satu pemikirannya adalah mengusulkan bentuk negara jumhuriyah atau negara republik.

Dilansir dari laman tirto.id salah satu prestasi K.H. Ahmad Sanusi dalam keanggotannya di BPUPKI adalah berhasil memecah kebuntuan saat penentuan pasal ketuhanan yang dihasilkan oleh panitia sembilan yang berbunyi: “ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syarIat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.

Hal ini jelas menjadi pertentangan antara kubu nasionalis dan kubu Islam. Kubu nasionalis menganggap bahwa rumusan tersebut terlalu memihak kepada kubu Islam, sedangkan kubu Islam menganggap bahwa rumusan tersebut terlalu lunak sehingga mereka mengusulkan untuk menghapus redaksi “bagi pemeluk-pemeluknya” sehingga menjadi “ketuhanan dengan menjalankan syariat Islam” guna untuk memperkuat rumusan tersebut.

Suasana sidang yang semakin memanas akhirnya buntu, Radjiman Wedyoningrat sebagai ketua BPUPKI menawarkan pemungutan suara guna menghentikan kebuntuan sidang, saat semua anggota hendak menyetujui keputusan Radjiman tersebut, akhirnya K.H. Ahmad Sanusi mengusulkan untuk menunda sidang hingga esok hari didasarkan karena suasana sidang yang para anggotanya tidak bisa lagi berpikiran jernih.

Usulan K.H. Ahmad Sanusi tersebut memberikan waktu kepada Ir. Soekarno sebagai ketua pantia sembilan, sehingga dapat melakukan pendekatan kepada kedua belah pihak yang bersitegang. Hasilnya semua anggota menerima apa saja yang diputuskan sidang keesokan harinya.

Perjuangan dalam Bidang Dakwah dan Pendidikan

Pada tahun 1915 setelah kepulangan dari menutut ilmu di Mekkah K.H. Ahmad Sanusi membantu untuk mengajar di pondok pesantren Ayahnya, kepiawaiannya dalam menyampaikan ilmu dan metode yang digunakan K.H. Ahmad Sanusi dalam menyampaikan pengajaranya berbeda dari kyai-kyai lain sehingga materinya mudah diterima oleh santri dan jamaahnya, oleh karena itu K.H. Ahmad Sanusi mendapatkan julukan ajengan cantayan.

Pada tahun 1921 atas bimbingan dari Ayahnya, K.H. Ahmad Sanusi mulai merintis sendiri pesantren miliknya yang berlokasi di daerah Genteng Babakan Sirna, Cibadak, Sukabumi. Sehingga K.H. Ahmad Sanusi mendapat julukan tambahan yaitu Ajengan Genteng.  Selanjutnya pada tahun 1935 K.H. Ahmad Sanusi mendirikan pesantren lagi di daerah Gunung Puyuh, pesanren ini dinamakan dengan pesantren Syamsul Ulum.

Selain dari pada membangun pesantren K.H. Ahmad Sanusi juga aktif menulis, semasa hidupnya K.H. Ahmad Sanusi telah menulis sekurang-kurangnya 525 karya tulis yang di mana 400 di antaranya tersusun rapi di Universitas Leiden Belanda. oleh karena itulah menurut Van Bruinessen produktifitas karyanya merupakan salah satu dari karya orisinal orang Sunda.

Salah satu dari karyanya yang terkenal adalah kitab Maljau at-Thalibin yang merupakan kitab tafsir yang menggunakan bahasa Sunda, dalam kitab tafsir ini banyak memuat tanggapan K.H. Ahmad Sanusi terhadap gugatan kalangan reformis terkait masalah khilafiyah dalam perkara ibadah dan juga kritikan beliau terhadap ulama yang menjadi tangan kanan Belanda yang pada saat itu disebut dengan ulama kauman.

*Penulis merupakan mahasiswa IAT angkatan 2018