Lompat ke konten

Ilmu Al-Qur'an Dan Tafsir

KETIKA IMAN KUAT, MAKA HIDUP AKAN TERASA NIKMAT

  • oleh
Foto/Unsplash

Oleh: Teguh Saputra

Naik turunnya Iman kepada Allah Swt dan Rasul-Nya merupakan suatu gejala yang kerap dirasakan oleh seluruh manusia. Walau sejatinya manusia diciptakan oleh Allah Swt dalam bentuk yang sebaik-baiknya (At-Tin ayat 4), akan tetapi pada kenyataannya manusia tidak luput dari salah dan dosa. Namun sebagai manusia kita mesti berusaha untuk menjaga keimanan tersebut.

Iman secara bahasa artinya percaya. Kemudian secara istilah iman artinya membenarkan atau menyakini dengan hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan seluruh anggota badan. Pada ajaran Islam terdapat enam rukun iman yang mesti diimani. Lalu agar iman tersebut selalu terjaga, maka hal-hal yang dapat menurunkan iman perlu kita ketahui agar bisa dihindari, seperti berikut ini:

  • Berbuat maksiat atau dosa

Hal yang menyebabkan keimanan kepada Allah Swt dan Rasul-Nya menurun, salah satunya adalah berbuat maksiat atau dosa sebab tidak mungkin seseorang mempunyai keberanian untuk melakukan perbuatan maksiat atau dosa ketika dalam hatinya terdapat keimanan yang kuat dengan merasa diawasi serta takut kepada-Nya. Sebagaimana keterangan dalam sebuah hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَالتَّوْبَةُ مَعْرُوضَةٌ بَعْدُ

Artinya: Dari Abu Hurairah mengatakan, Nabi Saw bersabda, Tidaklah berzina orang yang berzina ketika ia berzina dalam keadaan beriman, dan tidaklah mencuri orang yang mencuri ketika ia mencuri dalam keadaan beriman, tidaklah ia meminum khamr ketika meminumnya dan ia dalam keadaan beriman, dan tobat terhampar setelah itu.” (HR. Muslim)

  • Godaan dari Iblis atau setan

Godaan dari Iblis atau setan ini senantiasa membisikan kepada manusia agar melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak diridhoi oleh Allah Swt, sebab tatkala manusia berbuat keburukan atau maksiat maka sejatinya manusia itu sedang jauh dari jalan yang benar, yaitu jalan yang diridhoi Allah Swt. Sebagaimana disebutkan dalam surah al-A’raf ayat 16-17:

قَالَ فَبِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَۙ (١٦) ثُمَّ لَاٰتِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَاۤىِٕلِهِمْۗ وَلَا تَجِدُ اَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ (١٧)

Artinya: (Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.

Selain kita mengetahui hal-hal yang dapat menurunkan iman, selanjutnya kita mesti menjaga iman tersebut dengan memperhatikan hal-hal di bawah ini:

  • Menyadari bahwa tugas utama manusia adalah beribadah kepada Allah Swt

Hal yang harus ditanamkan untuk menjaga keimanan adalah menyadari bahwa tujuan diciptakannya manusia adalah untuk beribadah kepada Allah Swt. Maka seharusnya setiap manusia senantiasa melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya agar keimanan tetap terjaga, mendapatkan ridha-Nya, dan diakhirat kelak dapat masuk ke dalam surga-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam surah adz-Dzariyat ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ (٥٦)

Artinya: Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.

  • Senantiasa melaksanakan amal baik dan menjauhi amal buruk

Hal lainnya yang harus dilakukan untuk menjaga keimanan adalah dengan senantiasa melaksanakan amal amal baik, contohnya dengan menunaikan ibadah shalat. Sebagaimana disebutkan dalam surah al-Baqarah ayat 3:

الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ ۙ (٣)

Artinya: (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.

Dengan menunaikan ibadah shalat dengan khusyuk, dapat membuat kita lebih dekat dengan Allah Swt. Oleh sebab itu, ketika manusia merasa dekat dengan Allah Swt maka orang tersebut akan terjaga keimanannya karena selalu ingat kepada-Nya.  Sebagaimana disebutkan dalam surah Thaha ayat 14:

اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ  (١٤)

Artinya: Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku.

  • Senantiasa menutut ilmu keagamaan (Islam)

Hal lain yang harus dilakukan untuk menjaga keimanan adalah dengan menuntut ilmu agama tujuannya agar ibadah yang kita lakukan sesuai dengan perintah Allah Swt dan sesuai dengan yang dicontohkan oleh Baginda Nabi Muhammad Saw.

  • Menjaga lingkungan pergaulan

Hal lain yang tidak kalah penting untuk menjaga keimanan adalah menjaga lingkungan pergaulan. Sebab bagaimanapun juga lingkungan ini mempunyai peranan penting dalam mempengaruhi kepribadian seseorang. Sebagaimana disebutkan dalam surah al-Kahfi ayat 28:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ وَلَا تَعْدُ عَيْنٰكَ عَنْهُمْۚ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَلَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ وَكَانَ اَمْرُهٗ فُرُطًا (٢٨)

Artinya: Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.

*Penulis merupakan mahasiswa IAT angkatan 2018

Daftar Pustaka

Izzah, L. (2015). Penguatan Keislaman dalam Pembentukan Karakter. Literasi: Jurnal Ilmu Pendidikan, 6(2), 177–190.

Jannah, R. (2017). Upaya Meningkatkan Keberhasilan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Madrosatuna: Journal of Islamic Elementary School, 1(1).

Saputra, T., & Sholihin, M. (2021). Shalat dan Pembentukan Kepribadian: Tinjuan Psikologi. Gunung Djati Conference Series, 480–492.