Kitab Tafsir Nusantara Ikut Serta Dalam Mewariskan Bahasa

IQT.UINSGD.AC.ID – Kitab tafsir selain berfungsi sebagai kitab yang menjelaskan isi kandungan ayat-ayat Al-Qur’an, juga berfungsi sebagai media yang dapat mewariskan dan menjaga bahasa. Hal ini terjadi karena saat menafsirkan Al-Qur’an, mufassir seringkali memakai berbagai kosakata dalam bahasa sasaran. Satu di antaranya adalah Moh. E. Hasyim.

Melalui karya tafsirnya, Moh. E. Hasyim mendapatkan anugerah Sastra Rancage pada tahun 2001, yaitu sebuah penghargaan yang diberikan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage untuk orang-orang yang telah berjasa mengembangkan bahasa dan sastra daerah. Jika kita membaca Kitab Tafsir Ayat Suci Lenyepaneun karya Moh. E. Hasyim, maka kitab tersebut telah menghubungkan pembacanya dengan bahasa Sunda tahun 1990an. Melalui pembacaan kitab tersebut, kita sebagai pembaca secara tidak sadar telah menerima bahasa Sunda yang diwariskan Moh. E. Hasyim melalui kitab tafsirnya.

Jika kita membaca lagi karya tafsir Nusantara lainnya, yakni Kitab Tafsir Raudhatul ‘Irfan karya K.H. Ahmad Sanusi, maka kitab tafsir ini akan mengajarkan kita secara lebih mendalam mengenai pemakaian kata-kata dalam bahasa Sunda pada zaman dahulu, contohnya untuk menyebut “Aku” dalam konteks merujuk subjek Allah, selalu menggunakan kata aing. Orang-orang di zaman sekarang merasa tidak cocok merujuk nama Allah dengan kata aing karena merupakan bahasa kasar. Padahal, kita ketahui dari Kitab Tafsir Raudhatul ‘Irfan ini, kata aing memiliki makna pengagungan dan menunjukkan suatu kebesaran atau kekuasaan.

Lebih jauh lagi ke belakang, untuk mengenal bahasa daerah lainnya, seperti bahasa Melayu, kita bisa mempelajarinya dengan membaca Kitab Tafsir Turjuman Al-Mustafid karya ‘Abdurra’uf As-Sinkili yang dikenal sebagai pelopor kitab tafsir di Nusantara. Kitab tersebut dapat menghubungkan pembacanya dengan bahasa Melayu abad 17. Di dalamnya terdapat beberapa kosa kata yang sudah jarang dipakai atau tidak dipakai sama sekali. Contohnya, saat menafsirkan Q.S. Al-Baqarah (2): 164.

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ

“Bahwasanya pada menjadikan tujuh petala langit dan tujuh petala bumi…” (Q.S. Al-Baqarah (2): 164)

Kata “Petala” yang ada dalam penafsiran tersebut sudah tidak dipakai lagi, kata tersebut sudah tergantikan atau orang-orang lebih memilih memakai kata, seperti “Lapis”, “Susun”, atau “Tingkat”.

Dalam hal ini, dapat kita ketahui karya tafsir Nusantara memiliki peran penting dalam mewariskan bahasa dari generasi terdahulu ke generasi-generasi selanjutnya. Hanya saja kitab-kitab tersebut tidak mudah dibaca oleh pembaca pada umumnya karena kitab ini menggunakan aksara pegon atau jawi. Selain itu, seringkali kita temui di beberapa halaman, cetakan font tidak terlihat jelas, baik karena cetakan font-nya yang terlalu tebal maupun tipis.

Oleh karena itu, perlu dilakukan proses transliterasi dan terjemahan oleh peneliti. Transliterasi merupakan pengalihan jenis tulisan dengan cara mengganti huruf demi huruf dari abjad satu ke abjad yang lain. Adapun terjemahan adalah hasil pengalihan bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran dengan  penyesuaian yang sewajarnya tanpa menghilangkan pesan yang terkandung di dalam bahasa sumber. Melalui hasil transliterasi dan terjemahan tersebutlah, pembaca pada umumnya akan lebih mudah membaca dan memahami kitab tersebut.

Sumber:

Eva Syarifah Wardah, Tahapan/Proses Cara Kerja Penelitian Filologi, Jurnal TSAQAFAH, Vol. 8, No. 2, hlm. 187.

https://www.google.com/amp/s/tafsiralquran.id/moh-e-hasim-tokoh-mufasir-sunda-aktifis-muhammadiyah/amp/

Kitab Tafsir Raudhatul ‘Irfan Jilid 2

Kitab Tafsir Turjuman Al-Mustafid Jilid

Siti Baroroh Baried dkk, Pengantar Teori Filologi, Jakarta: Pusat pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1985, hlm. 65.