“Aisyah.. romantisnya cintamu dengan Nabi, dengan Baginda kau pernah main lari-lari”            

Kalian seolah mendengar kalimat di atas bukan? Seminggu, lagu ini terus berdering di setiap sudut platform Indonesia. Nissa Sabyan dan Syakir Daulay sebagai tonggak perdana yang mengcovernya, “Aisyah Istri Rasulullah” pun viral. Delapan dari sepuluh trending Youtube Indonesia didominasi para musisi yang unjuk kebolehan membawakannya. Tak luput, timeline wa pun menyerbuku dengan potongan-potongan video betapa merdu dan tampannya Ray Mbayang beserta tiga temannya yang epik melantunkan kidung indah ini, ya, siapa lagi kalau bukan ciwi-ciwi baper yang tak kuat akan romantisnya kisah Rasulullah SAW dengan ummul mu’minin Aisyah ra. Jomblo bisa apa, memang cobaan, aku tau.

Selain “Aisyah” yang cukup membuat gempar, segala rupa kreativitas unik lain juga berlomba mempertontonkan diri, dari bermacam tagar lucu berisi sambatan lelahnya di rumah aja yang digaungkan di twitter, hingga joget mamah muda yang sedang hype di Tiktok tak mau ketinggalan. Banyak dari kita turut berpartisipasi, rasanya ide tak kenal mati, dari sekadar melipur diri, hingga berbagai projek positif donasi sana-sini yang pastinya menginspirasi, menghiasi sejarah dekade baru Indonesiaku ini.

Healing. Ya, itu adalah salah satu alasan kegiatan seperti di atas sangat digandrungi. Diam di rumah, rebahan berbagai gaya di kasur, santai-santai scrolling timeline, menjadi mimpi para pengadu nasib di penjuru bumi, termasuk aku, dulu. Namun, segalanya tak lagi sama, untuk menikmatinya pun punggung ini sudah tak mampu. Kebas dan pegal, temanku setiap hari. Tak ayal, orang-orang tau bahwa memulihkan diri dengan hiburan dapat menjadi pilihan. Rasa jenuh dan letih yang makin menggerogoti diri, dituangkan dalam berbagai wadah yang mereka punya, seolah berbicara, bahwa kita semua sedang tak baik-baik saja, namun lebih dari itu, setidaknya kita berusaha.

Melalui semua ini, kita belajar banyak hal kawan. Tak hanya mengenai diri dan materi yang senantiasa kita agungi, iman dan hati ternyata butuh diisi. Menanyai diri, meluruskan visi, apa sebenarnya hidup ini. Baru sadar selama ini main lari-lari tidak mencipta pelipur abadi. Kita dibawa merenungi, apa yang terjadi memang tak selalu seperti yang diingini. Nyata atau tidak, namun itu benar adanya, manusia memang sulit memahaminya. Pilihan kita kali ini hanya bertahan dan terus berdoa, berharap  menang dan mengerti di masa nanti. Kita pasti bisa. Seperti “Celengan Rindu” Fiersa Besari, mari kita menabung perih, saat itu penuh, dan semua kembali seperti semula, kita tau mengapa kita diberi ini, dengan diri yang lebih baik tentunya.

Penulis : Asya Dwina Luthfia (Mahasiswa IAT 2018)