Lompat ke konten

Ilmu Al-Qur'an Dan Tafsir

Mengenal Mata Kuliah: Urgensi Memahami Tafsir Aqidah

  • oleh

Oleh : Nur Muhamad Iskandar

Pokok pembahasan dari tafsir aqidah adalah membahas ayat-ayat Al-Qur’an yang bermuatan aqidah atau kepercayaan. Pembahasan ayat-ayat tersebut menjadi sangat penting karena pendalaman terhadap aqidah menjadi landasan dasar yang wajib bagi setiap mu’min. Sebelum mempelajari penafsiran terhadap ayat-ayat aqidah, mari kita mengenal terlebih dahulu pengertian dari tafsir, aqidah, tafsir aqidah, dan hal-hal lain yang berhubungan dengannya.

Pengertian Tafsir

Secara etimologi, tafsir menurut Al-Jurjani dalam kitab Al-Ta‘rifat, bahwa kata tafsir adalah “al-kasyf wa al-izhhar” artinya menyingkap (membuka) dan melahirkan. Kata “Tafsir” diambil dari kata “fassara-yufassiru-tafsiran” berarti keterangan atau uraian. Pengertian kata tafsir  tersebut pada dasarnya tidak terlepas dari kandungan makna al-idhah (menjelaskan), al-bayan (menerangkan), al-kasyf (mengungkapkan), al-izhhar (menampakkan), dan al-ibanah (menjelaskan).

Sedangkan secara terminologi, menurut Al-Zarkasyi dalam kitab Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, bahwa tafsir adalah:

عِلْمٌ يُفْـهَمُ بِـهِ كِتَـابُ اللهِ اَلْمُـنَزَّلُ عَلَى نَبِـيِّـهِ مُحَـمَّـدٍ صَلّى اللهُ عَلَيْـهِ وَ سَلَّـمَ، وَ بَيَـانُ مَعَـانِيْـهِ وَ اسْتِخْراجُ أَحْـكَـامِهِ وَ حِكَمِـهِ

Artinya: “Tafsir adalah ilmu yang digunakan untuk memahami dan menjelaskan makna-makna kitab Allah (Al Qur’an) yang diturunkan kepada nabi-Nya Muhammad SAW, serta menyimpulkan kandungan-kandungan hukum dan hikmahnya.”

Pengertian Aqidah

Secara etimologi, kata “Aqidah” berasal dari bahasa Arab yaitu  اَلْعَقِيْدَةُ (al-aqidah) yang merupakan mashdar dari kata kerja ’aqada. Bisa juga berasal dari kata  اَلْعَقْـدُ  (al-‘aqdu) yang berarti ikatan. Dalam pengertian  اَلْتَـوْثِـيْقُ  (at-tautsiqu), aqidah berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, atau  اَلْإِحْكَــامُ  (al-ihkamu) yaitu mengokohkan (menetapkan), dan  اَلرَّبْـطُ بِقُـوَّةٍ  (al-rabth biquwwah) yang berarti mengikat dengan kuat.

Sedangkan secara terminologi, menurut M. Quraish Shihab dalam buku Kosakata Keagamaan, kata aqidah dapat mengandung dua pengertian. Pertama, pembenaran hati yang teguh terhadap apa yang dipercayai. Kedua, objek kepercayaan, yakni hal-hal yang harus diyakini kebenarannya. Al-Jurjani dalam kitab Al-Ta‘rifat menjelaskan bahwa aqidah adalah sesuatu yang diyakini bukan yang diamalkan.

Adapun kata aqidah dalam terminologi Al Qur’an disebut juga dengan istilah iman. Istilah iman terdiri dari tiga komponen, yaitu membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lidah, dan mengamalkan dengan anggota badan. Istilah iman dalam berbagai bentuknya, ditemukan dalam Al Qur’an sebanyak 718 kali. Kata iman dalam Al Qur’an ini, sering disandingkan dengan amal saleh, maka antara aqidah atau iman dan amal, tidak boleh dipisahkan.

Adapun aqidah dalam islam yaitu keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah SWT, dengan melaksanakan kewajiban, bertauhid, dan patuh kepada Allah, beriman kepada malaikat-malaikat Allah, rasul-rasul Allah, kitab-kitab Allah, hari akhir, takdir baik dan buruk, serta mengimani seluruh apa yang telah shahih tentang prinsip-prinsip agama. Dalam pembahasan aqidah islam ini, pada umumnya berkisar pada arkan al-iman. Arkan al-iman ini berpusat pada dua kalimah syahadat.

Tafsir Aqidah

Dari uraian di atas, dapat kita pahami bahwa tafsir aqidah adalah tafsir yang berkenaan dengan pembahasan ayat-ayat terkait dengan aqidah islamiyah atau arkan al-iman. Pembahasan ayat-ayat tersebut menjadi sangat penting dan sangat fundamental bagi jati diri mu’min. Sebab, pemantapan dan pendalaman terhadap arkan al-iman atau aqidah al-islamiyah menjadi landasan dasar yang wajib bagi setiap mu’min. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-Nisa : 136.

يٓـٰاَيُّـهَا الَّـذِيْنَ اٰمَنُـوْٓا اٰمِنُوْا بِا للهِ وَ رَسُوْلِهِ وَ الْكِتٰبِ الَّـذِيْ نَـزَّلَ عَلَى رَسُوْلِهِ وَ الْكِتٰبِ الَّذِيْٓ اَنْـزَلَ مِنْ قَبْلُ. وَمَنْ يَكْـفُرْ بِاللهِ وَ مَلٰٓىِٔكَتِـهِ وَ كُتُـبِهِ وَ رُسُـلِهِ وَالْيَـوْمِ الْاٰخِـرِ، فَـقَـدْ ضَـلَّ ضَـلٰـلًا بَعِـيْدَا

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya (Muhammad SAW), dan kepada kitab (Al Qur’an) yang diturunkan kepada rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian (hari kiamat), maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh.”

Terdapat dua variabel pemahaman pada QS. Al-Nisa ayat 136 ini. Variabel pertama, Allah SWT mewajibkan kepada orang-orang beriman untuk beriman (mengimani) kepada Allah SWT, rasul-Nya (yaitu Muhammad SAW), dan kitab-Nya (yaitu Al Qur’an), serta kitab-kitab yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad SAW.

Hal ini menegaskan bahwa wajib hukumnya bagi setiap mu’min untuk tetap beriman kepada apa yang telah disebutkan dalam Q.S. Al-Nisa: 136. Iman kepada kitab-kitab Allah dan kepada rasul-rasul-Nya adalah satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan, karenanya tidak boleh beriman kepada sebagian rasul dan kitab saja, tetapi mengingkari yang lain seperti dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Ungkapan “tetap beriman” ini bermakna tidak boleh sedikit pun mempunyai rasa ragu.

Variabel kedua, Allah SWT menegaskan (memberikan sangsi tegas) kepada orang-orang yang ingkar (kufur/tidak beriman) kepada-Nya, kepada malaikat-malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada rasul-rasul-Nya, dan kepada hari kemudian (hari akhir/hari kiamat). Dengan menggolongkannya (orang-orang yang ingkar) sebagai orang-orang yang sangat sesat, yang sangat dimurkai-Nya.

Hal ini menegaskan bahwa haram hukumnya bagi setiap hamba (orang) bersikap dan berbuat ingkar. Jangankan tidak percaya atau ingkar, adanya rasa ragu atau keraguan saja terhadap ragunya kepada Allah SWT., malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, sudah merupakan perbuatan yang sesat dan menyesatkan. “keraguan” itu merupakan lawan kata dari “keyakinan/iman”. Jika memiliki “rasa ragu”, maka sama dengan memiliki rasa tidak iman.

Maka dari itu, mempelajari dan mengenal tafsir aqidah sangat penting untuk lebih memahami aqidah yang benar seperti yang dijelaskan dalam Q.S. Al-Nisa: 136, yakni berusaha untuk “tetap beriman”, dan senantiasa dijauhkan dari golongan yang sesat. Lebih lanjut, kita dapat menjadi hamba yang beriman secara kaffah, yakni kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta takdir baik dan buruk.

Sumber :

Materi Kuliah Tafsir Aqidah, oleh Dosen Pengampu : Drs. M. Solahudin, M.Ag.

Buku :

  1. Al-Ta‘rifat karya Al-Jurjani.
  2. Kosakata Keagamaan karya Quraish Shihab.
  3. Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an karya Manna‘ al-Qaththan.

Artikel “Tafsir Surat Al-Nisa’ Ayat 136-140” oleh Maqdis, https://tafsiralquran.id/tafsir-surat-al-nisa-ayat-136-140/