Lompat ke konten

Ilmu Al-Qur'an Dan Tafsir

Mengenal Sosok: Sang Penulis Kitab Tafsir Ibnu Katsir

  • oleh

Oleh: Ridwan Fauzi

Nama mufassir yang satu ini tentunya tidak asing lagi di telinga kita, baik dalam kehidupan pesantren maupun dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih bagi mahasiswa/i Ilmu al-Qur’an dan Tafsir yang mana notabenenya mempelajari tafsir baik itu tafsir klasik maupun tafsir kontemporer. Sebutan populer pada kitab tersebut, tak lain merupakan nama masyhur si penulis. Ya betul, Ibnu Katsir. 

Tokoh dengan nama Ibnu Katsir ini dalam khazanah keislaman sudah populer sekali, nama lengkapnya adalah Imad ad-Din Abu al-Fida Ismail Ibn Amar Ibn Katsir Ibn Zara’ al-Bushra al-Damasyqi. Beliau lahir di Mijdal, Basrah bagian Timur, pada tahun 700 H, atau bertepatan dengan tahun 1300 M. dan wafat sekitar pada hari Kamis 26 Sya’ban tahun 774 H. Ia dimakamkan di kuburan As-Sufiyyah di dekat makam gurunya (Ibnu Taimiyah).

Ayahnya merupakan ulama terkemuka pada masanya. Pada umur 3 tahun ayahnya meninggal, lalu beliau dibawa oleh kakak tercinta dari tempat kelahirannya ke Damaskus sampai akhir hayatnya. Karena perpindahan inilah beliau mendapatkan gelar al-Damasyqi. Sedangkan predikat al-Syafi’i berkaitan dengan madzhabnya. Namun ada juga yang mencantumkan gelar al-Busrawi yang mana gelar tersebut dikarenakan beliau lahir di Basrah.

Perjalanan intelektual Ibnu Katsir dimulai pertama kalinya menimba ilmu dengan Kamal al-Din Abdul Wahhab, yang mana ia adalah kakaknya dari ayahnya sendiri. Lalu pada usia 11 tahun beliau menyelesaikan hafalan al-Qur’an dan melanjutkan memperdalam ilmu Qira’at dan ilmu tafsir, dari Syekh al-Islam ibnu Taimiyah (661-728 H). Kemudian beliau melanjutkan perjalanan menimba ilmunya di bawah bimbingan para ulama pada masanya. Diantara adalah Baha’ al-Din al-Qasimi Ibn Asakir (wafat 723 H), Ishaq Ibn Yahya al-Amidi (wafat 728 H), Taqi al-Din Ahmad Ibn Taimiyyah (wafat 728 H).

Setiap bidang ilmu yang ditekuni oleh Ibnu Katsir, beliau selalu didampingi oleh guru yang mahir dalam bidangnya. Contohnya dalam bidang hadis, beliau banyak belajar dari ulama-ulama Hijaz dan beliau memperoleh ijazah dari al-Wani. Beliau juga dididik oleh pakar hadis terkenal yang berasal dari Suriah yaitu Jamalu al-Din al-Mizzi (wafat 724 H/1342 M), yang kemudian pada akhirnya menjadi mertuanya sendiri.

Dalam waktu yang lama, beliau hidup di Suriah sebagai orang yang sederhana dan tidak terkenal. Popularitasnya dimulai ketika beliau terlibat penelitian di akhir tahun 741 H yang akhirnya menetapkan hukuman terhadap seorang zindiq yang menganut paham hulul (inkarnasi). Selain terkenal dengan pakar terkemuka dalam bidang ilmu tafsir, beliau juga terkenal dalam bidang fiqh atau hukum. Beliau dijadikan tempat konsultasi oleh para penguasa, misalnya dalam pengesahan keputusan yang berhubungan dengan korupsi (761 H/1358 M) dalam mewujudkan rekonsiliasi dan perdamaian pasca perang saudara yakni pemberontakan Baydamur (763 H/1361 M), serta dengan menyerukan jihad (770-771 H/1368-1369 M).

Dari sekian banyak karya yang telah ditulis oleh Ibnu Katsir, ada dua karya yang paling besar. Pertama, karya dalam bidang sejarah yaitu kitab al-Bidayah wa al-Nihayah yang terdiri atas 14 jilid besar yang memaparkan berbagai peristiwa yang terjadi pada tahun 768 H atau enam belas tahun sebelum wafatnya Ibnu Katsir. Yang kedua adalah karyanya dalam bidang tafsir yaitu Tafsir al-Qur’an al-Azim atau yang sering kita sebut dengan Tafsir Ibnu Katsir.

Karya-karya yang lain dari Ibnu Katsir adalah diantaranya sebagai berikut: Fudail al-Qur’an merupakan kitab ringkasan sejarah al-Qur’an, diterbitkan pada halaman terakhir Tafsir Ibnu Katsir sebagai penyempurna. Selanjutnya dalam bidang hadis karyanya adalah sebagi berikut: Jami’ al-Masanid wa al-Sunnah, Tahrij Hadist ‘Adillah al-Tanbih li ‘ulum al-Hadist , al-Takmilah fi Ma’rifat al-Sigat wa al-Du’afa wa al-Mujahil, Ihtisar Ulum al-Hadist, Syarah Shahih Bukhori. Adapun dalam bidang fiqh antara lain: al-Jihad fi Talab al-Jihad, kutub al-Ahkam ‘Ala Abwab al-Tanbih. Dan dalam bidang sejarahnya adalah: Al-Kawatib al-Darari merupakan kitab cuplikan dari al-Bidayah wa al-Nihayah, al-Manaqib al-Imam Asy-Syafi’i, Taqabah al-Syafi’iah, dan yang terakhir adalah Al-Fusul fi Sirah al-Rosul atau al-Sirah al-Nabawiyah.

*Penulis merupakan mahasiswa IAT angkatan 2020