Lompat ke konten

Ilmu Al-Qur'an Dan Tafsir

Paradigma Islam terhadap Peran Perempuan di Ranah Publik

  • oleh

Oleh : Lutfiah Fitriani

Kajian perempuan di ranah publik ini sangat banyak, bahkan sangat luas untuk dikaji. Akan tetapi, kajian perempuan tidak hanya di ranah publik, tapi juga di ranah domestik. Ranah domestik ini lebih kepada peran perempuan sebagai kodratnya, sedangkan di wilayah publik itu nantinya berkaitan dengan isu-isu hak politik perempuan. Hak politik ini juga nanti akan terbagi pada hak mengeluarkan pendapat, kemudian hal-hal yang terkait dengan karir perempuan.

Di dalam masyarakat, terutama di Indonesia, kajian perempuan dalam tataran teologis sudah hampir disepakati, tetapi dalam tataran praktik masih banyak hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang telah disepakati dalam tataran teologis.

Peran perempuan menjadi kontroversi di masyarakat, bahkan tidak sedikit orang yang sepakat bahwa perempuan bisa berperan di ranah publik. Misalnya, Megawati ketika menjadi presiden, ulama berpendapat tentang boleh tidaknya perempuan menjadi pemimpin dan masih banyak lagi contoh kasus lainnya. Di sini terdapat hal yang menjadi kesenjangan.

Ada permasalahan yang harus dikaji secara krusial, kenapa sih ada anggapan bahwa perempuan itu adalah makhluk domestik? bahkan masih ada beberapa doktrin yang digunakan yaitu suara perempuan itu adalah aurat, perempuan itu dianggap tidak memiliki kecerdasan yang sama seperti laki-laki dan lain sebagainya. Poin-poin ini menjadi sumbangsih suara perempuan di wilayah politik, khususnya di indonesia ini masih sangat kurang. Hal ini menjadi persoalan untuk terus dikaji.

Dilihat dari tujuan penciptaan manusia, bahwa laki-laki dan perempuan itu memiliki tujuan yang sama yaitu pertama, abdullah atau seorang abid. Sesibuk apapun perempuan dengan pekerjaannya tetap seorang abdullah begitu pula laki-laki sehebat apapun kepemimpinannya tetap seorang abdullah, yaitu orang yang selalu beribadah kepada Allah dengan tulus dan ikhlas.

Kemudian, yang kedua yaitu khalifatullah, dalam Q.S Al-Baqarah ayat 30 dijelaskan bahwa “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi”. Khalifah disini Allah tidak menyebutkan apakah hanya laki-laki dan perempuan, tetapi semuanya yaitu “khalifah fil ardhi”. Perempuan dan laki-laki sama tugasnya yaitu “kuntum khairu ummatin”, pada lafadz kuntum itu terdapat makna laki-laki dan perempuan. Tetapi, biasanya sebagian para mufassir menghilangkan atau memberi penafsiran bahwa kata ”kuntum” itu hanya laki-laki.

Selanjutnya yang ketiga yaitu rahmatanlilalamin, tugasnya menebar kerahmatan, kasih sayang, kedamaian di muka bumi ini kepada umat. Tidak hanya laki-laki, tetapi perempuan juga masuk kedalamya. Karena ini tugas khalifah manusia.

Selain daripada itu, target dari tujuan penciptaan manusia itu adalah tauhidullah. Tauhidullah disini bukan sekedar rukun iman yang ada enam, tetapi pengakuan seseorang bahwa dzat yang merajai sesuatu itu hanyalah Allah SWT.

Salah satu contohnya, di dalam Al-Qur’an ada legitimasi bahwa perempuan boleh aktif di wilayah publik, seperti dalam Q.S An-nisa ayat 1 bahwa asal penciptaan perempuan dan laki-laki itu sama sehingga tidak boleh ada diskriminasi.

Lalu Q.S At-taubah ayat 7 tentang kewajiban melakukan kerja sama antara perempuan dan laki-laki dalam berbagai bidang kehidupan, Q.S An-nisa ayat 34 tentang laki-laki yang memiliki kekuasaan atas perempuan itu jika memenuhi syarat yang disebutkan, jika tidak berarti perempuan dapat mengganti posisi itu.

Pada ayat selanjutnya yakni Q.S Al-Hujurat ayat 13 yang menjelaskan bahwa posisi perempuan dan laki-laki itu sama di mata Allah, yang membedakan hanyalah takwanya, disusul pada Q.s Al-Isra ayat 70 menegaskan bahwa perempuan memiliki kemerdekaan penuh untuk melakukan ibadah yang sama, laki-laki dan perempuan memiliki sejumlah hak dan kewajiban.

Pada ayat lain yakni Q.S Al-Imran ayat 195 mengakui hak perempuan meningkatkan kualitas diri melalui  peningkatan ilmu dan takwanya, juga Q.S At-taubah ayat 7 menyerukan kepada perempuan dan laki-laki untuk memerintah pada kebajikan dan melarang pada kemungkaran, dan  Q.S Al-Mumtahanah ayat 12 kisah permintaan para perempuan di zaman rasul yang berbaiat pada rasul. Allah memerintahkan rasul untuk menerima baiat tersebut.

Poin-poin ini yang jarang diungkapkan oleh sekelompok muslim, dan membuat kita salah apabila aktif di wilayah publik. Ayat ini kerap di tutup rapat atas nama kepentingan sendiri maupun kelompoknya, sehingga melupakan ayat-ayat yang membolehkan perempuan mengemukakan idenya di ranah publik.

Selain itu, ada pula teks agama yang sering digunakan untuk melarang perempuan aktif di wilayah publik, seperti dalam Q.S Al-Ahzab ayat 33 yang menegaskan tempat paling cocok bagi perempuan adalah rumah. Padangan tersebut diperkuat dengan hadis yang menyebutkan bahwa allah telah menetapkan empat rumah bagi seorang perempuan, rahim ibunya, rumah orang tuanya, yang menjadi tempat tinggalnya sampai sebelum dia menikah, rumah suaminya yang tidak boleh ditinggalkan tanpa izinnya, dan kuburnya.

Kemudian Q.S An-nisa ayat 34 lafadz “Arrijalu qowwamuna alaannisa” menurut ibnu abbas ayat ini menunjukan bahwa laki-laki memiliki kekuasaan atas perempuan, bahkan rasyid ridla menganalogikan kekuasaan tersebut seperti kekuasaan raja pada rakyatnya (kepemimpinan), dan yang terakhir ada hadis yang diriwayatkan Abi Barkah yang mengatakan “lan yaflaha qaoumun wallau amarahu imroatan” (tidak beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusannya kepada perempuan).

Dilihat dari cara pandang para ulama yang berbeda dalam pengambilan ayat Al-Qur’an dan Hadis, ada beberapa orang yang setuju terhadap peran perempuan di ranah publik, ada pula yang sebaliknya.  Hal ini membuktikan bahwa perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk bisa berperan aktif di ranah publik.

Selain itu, Persoalan perempuan dan laki-laki dalam islam menekankan pada dua aspek yaitu ibadah dan muamalah. Di dalam aspek ibadah, perempuan dan laki-laki mempunyai kesempatan yang sama juga, tetapi yang masih banyak persoalan dalam aspek muamalah, perempuan hanya diberi celah sedikit.

Maka dari itu, semua yang dilakukan sejatinya adalah dengan prinsip tauhidullah. Jika ada yang melanggar tauhidullah, maka itu sudah menyalahi prinsip tauhid. Harus diingat bahwasanya ketaatan pada Allah dan manusia tidak sama. Ketaatan pada Allah itu mutlak, sedangkan untuk sesama manusia ada poin-poinnya seperti dalam Q.S Luqman ayat 14. Sikap yang harus kita lakukan adalah dengan berpikir tawazun atau adil, jangan hanya mementingkan kaumnya laki-laki atau pun perempuan, tetapi lihatlah dua perspektif untuk kepentingan bersama.

*Penulis merupakan mahasiswa IAT angkatan 2020

Sumber : Materi dari Dr. Eni Zulaiha, M.Ag. pada acara BISIKAN (Bincang Asyik Perempuan) yang diselenggarakan departemen pemberdayaan perempuan HMJ-IAT UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *