Lompat ke konten

Ilmu Al-Qur'an Dan Tafsir

Pengenalan Metode A’la Al-Jinan oleh Dr. Layla Al Barudi Maroko

IQT.UINSGD.AC.ID – “Kiranya perbuatan apa yang bisa dilakukan agar nanti Rasulullah mengenal saya,” itulah salah satu yang dipikirkan Dr. Layla Al Barudi sehingga semangatnya untuk belajar dan mengajar Al-Qur’an masih kuat sampai saat ini. Beliau berkunjung ke Indonesia untuk mengisi acara Seminar Internasional yang bertajuk, “Metode Tahfidz Al-Qur’an Hadis A’la Al-Jinan Maroko”.

Para mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) bersama mahasiswa Jurusan Ilmu Hadis (Ilha) duduk berkumpul dalam satu ruangan menghadiri seminar ini. Seminar ini adalah acara yang diselenggarakan oleh Jurusan IAT bersama Jurusan Ilha Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung (UIN Bandung). Bertempat di Aula Fakultas Ushuluddin Lantai 4, Kampus 1 UIN Bandung, pada tanggal 5 Desember 2023. Acara ini merupakan salah satu upaya untuk mendorong para mahasiswa menjadi Hamalatul Qur’an wa Hamalatul Hadits.

“Al-Qur’an ini adalah kitab yang tidak pernah selesai dibahas dan satu-satunya kitab suci yang paling banyak dikaji, tetap dijaga,” ucap Ketua Jurusan (Kajur) IAT, Dr. Sholehuddin, M.Ag saat memberikan sambutannya, Selasa (5/12/2023). Hari ini kita akan diperkenalkan dengan metode baru, metode a’la al-jinan. Di Indonesia, LPMQ sudah menyusun hampir ada 130 metode pembelajaran Al-Qur’an, itu merupakan khazanah yang menunjukkan antusiasme dari umat Islam untuk dekat dengan Al-Qur’an, baik membaca maupun menghafalkan,” sambung Wakil Dekan (Wadek) 1 Fakultas Ushuluddin, Selasa (5/12/2023).

Di awal pembahasan, Dr. Layla Al Barudi, mantan mahasiswi Jurusan Fisika ini menceritakan kisahnya dulu sebelum merintis lembaga tahfidz. Beliau saat itu merasa iri mendapati ada lansia yang sangat paham dengan kaidah-kaidah tajwid. Dr. Layla memutuskan untuk melanjutkan studi ke bidang Ushuluddin. Selain itu, beliau mencari lembaga atau masjid yang bisa mengajarinya Al-Qur’an.

Pencapaiannya sangat bagus. Dr. Layla menyelesaikan hafalan surah al-baqarah dalam waktu kurang dari satu bulan, juga selama lima bulan berhasil menghafal sepuluh hizb. Beliau juga menuturkan, pernah pergi ke suatu kota untuk mengikuti pelatihan menjadi seorang mursyidah. Lalu berada di Kota Tuswan, “Kemudian pergi ke Kota Tuswan, saya beri’tikaf di masjid selama satu minggu, di situ tidak ada satu orang pun yang belajar Al-Qur’an. Saya berdoa kepada Allah, mudah-mudahan orang-orang yang masuk ke masjid saat itu akan menjadi bagian dari orang-orang yang bisa saya ajari Al-Qur’an. Masuklah tiga orang lansia dan mulai belajar dari surah al-fatihah,” tuturnya saat sesi pengenalan metode tahfidz, Selasa (5/12/2023).

Merintis mulai dari Masjid Tuswan, beliau berhasil mengajarkan Al-Qur’an sampai ke luar Maroko. Setiap pengajarannya ia tidak lupa membawa kitab yang berisi pengalaman-pengalamannya selama mengajarkan Al-Qur’an. Atas segala pengabdiannya, Dr. Layla saat itu meraih peringkat pertama sebagai Wanita Pemberdaya Tahun 2020. Beliau mengkategorikan kelompok-kelompok penghafal Al-Qur’an dengan nama-nama seperti, Mu’minat, Ashabul Ghomamatain, Ath-Thariq ilal Jannah, dan kelompok yang sedang menghafal juz 30 atau hampir selesai menghafal disebut kelompok Ahlul Allah wa Khoshotuh. Dr. Layla juga memberi identitas berbeda pada anak didiknya, setiap kelompok hafalan memiliki warna kerudung dan pita yang berbeda tergantung tingkat hafalannya.

Tuturnya, beliau sengaja membuat bahagia para hufazh. “Ketika para hufazh ini sedang menghafal, saya sengaja menyajikan banyak makanan, kurma-kurma, dan banyak hidangan lainnya. Supaya dalam diri mereka terasa bahwa, menghafal Al-Qur’an ini begitu indah sekali, gimana nanti di Surga ‘Adn,” tambah Layla.

Ketika hufazh yang melakukan tasmi ada dua orang, beliau men-tasmi-nya itu dengan memposisikan satu orang di sebelah kanan dan satu orang lagi di sisi kiri. Kemudian para hufazh Al-Qur’an bertambah lagi dan harus ada cara yang lebih efisien. Salah satu solusinya adalah yang sudah menyelesaikan surah al-baqarah melakukan tasmi ke orang-orang yang mutqin di hafalan selanjutnya, yaitu kelompok ali imran, dan begitu seterusnya. Akan tetapi cara itu pula tidak efisien hingga akhirnya ia mengambil satu orang untuk menjadi pembimbing di setiap kelompok hafalan Al-Qur’an. Lanjutnya, “Saya punya metode sendiri, yaitu dengan mengulang sekaligus delapan hizb Al-Qur’an sepuluh kali agar para hufazh menjadi lebih kuat hafalannya, berbeda jika menghafalnya itu satu ayat diulang sepuluh kali.”

Ketika salah satu audiens mengajukan pertanyaan pada pemateri tentang bagaimana caranya tekad Dr. Layla bisa sangat besar dan kuat sampai saat ini, hal itu langsung saja ditanggapi oleh beliau, “Pertama, karena didikan dari kedua orang tua saya. Kedua, sempat terpikir kiranya perbuatan apa yang bisa dilakukan agar nanti Rasulullah mengenal saya, dan menurut saya Al-Qur’an yang bisa membuat saya dikenalnya,” jawabnya.

Selepas acara selesai, tanggapan disampaikan mahasiswa IAT semester 3, Rofi Nugraha kepada Tim Pers Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) IAT. “Seminar barusan itu sangat bagus sekali, sebagai bahan referensi baru untuk menambah wawasan terkait metode-metode dalam menghafal Al-Qur’an. Pesan untuk seminar ini adalah dalam acara sebagus ini, namun audiensnya saya rasa masih kurang. Sangat disayangkan!” tegas Rofi saat diwawancara pada Selasa (5/12/2023).

Tim Pers HMJ Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir