Lompat ke konten

Ilmu Al-Qur'an Dan Tafsir

Problematik Perkuliahan Online

Pandemi Corona berakibat pada berbagai sektor di Indonesia, salah satunya dalam Pendidikan. Dalam rangka upaya memutus mata rantai penyebaran Virus Corona (Covid-19), rata-rata perguruan tinggi mengganti perkuliahan dari yang sebelumnya tatap muka menjadi berbasis daring (online). Kebijakan ini tentunya menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan, khususnya para mahasiswa sebagai aktor yang menjalaninya.

Proses perkuliahan online memang menjadi suka-duka tersendiri bagi mahasiswa. Berbagai persoalan baru, timbul seiring dengan berlakunya sistem ini. Mulai dari kesiapan fasilitas hingga kendala yang acapkali melintangi. Berikut telah di rangkum beberapa hal yang jadi  rintangan tersendiri dalam menapaki perjalanan kuliah berbasis daring ini.

 

  1. Fasilitas Insfrastruktur Digital

Memang telah lama masyarakat Indonesia mengenal media berbasis digital, namun keadaannya di lapangan memang belum sepenuhnya mumpuni. Tidak semua kalangan memiliki sebuah komputer atau laptop, belum lagi menurut Data International Telecommunication Union (ITU) dan Biro Pusat Statistik (BPS) hanya sekitar 3 % dari dari total pengguna internet yang mendapat akses internet pita lebar yang cepat. Tak jarang, kendala sinyal yang acapkali lelet ataupun hilang menjadi hambatan utama bagi para mahasiswa. Beberapa mahasiswa yang tinggal di daerah  dengan jaringan yang lamban, bahkan harus rela naik turun sebuah gunung demi bisa mengikuti perkuliahan online.

 

  1. Gagap Teknologi

Tidak semua dosen  maupun mahasiswa akrab dan biasa dengan media berbasis digital. Beberapa dosen yang bisa dikatakan berusia lanjut dan tak biasa menggunakan media ini, seringkali terkendala dengan akses yang ada. Hal ini, bisa berujung pada kesalahan penafsiran pada sebuah materi yang diberikan. Belum lagi, gaya pengajaran yang kurang interaktif dan cenderung monoton membuat para mahasiswa cenderung bosan. Tak jarang pula, dosen mengganti perkuliahan dengan tugas yang bejibun tanpa mengindahkan keadaan dan kesiapan para mahasiswa itu sendiri. Selain itu, beberapa aplikasi penunjang pembelajaran memang memiliki karakteristik tersendiri yang tentunya akan mempengaruhi pada kualitas yang ada.

 

  1. Ketimpangan Akses

Tidak semua mahasiswa berlatar belakang memadai. Ada mahasiswa yang bahkan harus rela meminjam Smartphone milik tetangga karena kebetulan miliknya sedang rusak. Belum lagi, pengeluaran yang tak sedikit karena ada beberapa perkuliahan yang mewajibkan menggunakan aplikasi video conference, dengan begitu akan menguras penggunaan daya internet. Seorang mahasiswa mengaku, bisa menghabiskan hingga ratusan ribu rupiah dalam setiap bulannya. Hal ini, akan menjadi rumit ketika pihak kampus tidak memberikan bantuan subsidi kuota sama sekali, tentunya mahasiswa harus merogoh kocek lebih dalam guna bisa mengikuti perkuliahan dengan baik.

 

  1. Motivasi hingga Psikologis

Perkuliahan online memang cenderung berpatokan pada keinginan kuat yang ada pada diri mahasiswa itu sendiri. Waktu yang lebih fleksibel dan cenderung santai malah bisa membuat para mahasiswa jadi terlena. Terkadang, tak sedikit hanya mengisi absensi tanpa mengikuti perkuliahan secara serius dan fokus. Kuliah hanya menjadi sebuah formalitas belaka. Oleh karena itu, hanya mahasiswa-mahasiswa yang berkeinginan kuat saja yang bisa mendapatkan hasil yang maksimal dalam perkuliahan jarak jauh ini. Selain perkara motivasi, perkuliahan secara online juga cenderung mempengaruhi psikis dari para mahasiswa. Tugas yang banyak dan condong membuat risau karena tak paham, malah menjadi beban tersendiri. Kebanyakan mahasiswa mengeluh akan hal ini.

Melihat pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa perkuliahan secara online cenderung membebani mahasiswa sebagai objek utama dalam menjalaninya. Ya, walau di sisi lain kuliah online membuat mahasiswa menjadi melek teknologi namun semua itu malah bisa tak terwujud karena beragam hal baik sarana dan prasarana maupun situasi yang menghadang.

 

Sumber Referensi :

Kampusiana. “Suka dan Duka Kuliah Online.” (http://lpmprogress.com/post/suka-duka-kuliah-online).

N, Akbar. “Kuliah Online Bikin Mahasiswa Jadi Banyak Pengeluaran (Sekaligus Keenakan).” (https://mojok.co/terminal/kuliah-online-bikin-mahasiswa-jadi-banyak-pengeluaran-sekaligus-keenakan/).

Sigiranus. “Kisah Mahasiswa NTT Kesulitan Kuliah Online karena Tak Punya Ponsel.” (https://kupang.kompas.com/read/2020/05/12/09441351/kisah-mahasiswa-ntt-kesulitan-kuliah-online-karena-tak-punya-ponsel?page=all).

S, Rendy dan Intan. “Susah Sinyal, Mahasiswa Nekat Naik Gunung Demi Bisa Kuliah Online.” (https://www.suara.com/news/2020/05/07/081145/susah-sinyal-mahasiswa-nekat-naik-gunung-demi-bisa-kuliah-online).

T, Wishnu. “Kuliah Online Berisiko Menurunkan Mutu Pembelajaran Mahasiswa Miskin di Indonesia.” (https://www.vice.com/id_id/article/m7qd5x/kuliah-online-berisiko-menurunkan-mutu-pembelajaran-mahasiswa-miskin-di-indonesia).

Penulis : Qintannajmia E
Editor : Dodi Insan Kamil
Resource image : skipprichard.com