Lompat ke konten

Ilmu Al-Qur'an Dan Tafsir

REFLEKSI (Kerinduan yang Hilang)

REFLEKSI
(Kerinduan yang Hilang)

Oleh : Rauufy Hamdennirieza

Pandanganku buram. Langit-langit ruangan itu masih sama seperti kemarin. Aku masih berbaring menatapnya dengan putus asa. Sudah berapa lama aku disini? Aku bahkan lupa tanggal berapa sekarang. Sepertinya waktu menelanku dalam kehampaan dan membuatku kehilangan harapan.

Layar smartphone­ yang kuletakkan di sebelahku bersinar, sebuah panggilan video masuk. Kupalingkan wajahku meliriknya, tak lama panggilan itu berakhir dan terlihat di layar sudah 26 panggilan tak terjawab. Beberapa pesan berulang kali muncul di pemberitahuan dengan nama kontak yang berbeda. Aku menatapnya nanar. Perlahan air mataku menetes, dadaku terasa sesak, paru-paruku seperti di remas.

Kenangan yang mendalam hadir bersama penyesalan. Sudah berapa lama aku tak bertemu dengan mereka? Beberapa bulan lalu kita masih menghabiskan waktu bersama. Di ruang putih dengan kursi berjejer itu kita berkumpul dan melalui suka duka. Banyak hal telah kita lakukan bersama yang membuatku enggan melupakannya.

Apa kalian ingat hari pertama kita bertatap muka? Wajah-wajah baru yang asing membuat suasana terasa canggung. Disana kita dipertemukan oleh takdir. Penuh kebanggaan dan kepolosan masa muda. Sama-sama mencoba untuk mengenal dunia yang baru, kehidupan yang belum pernah kita tahu. Beberapa rela pergi jauh meninggalkan ayah dan ibu. Hidup mandiri meski terkadang terasa pilu.

Siswa jadi mahasiswa, guru menjadi dosen, sekolah jadi kampus, jam pembelajaran terasa begitu singkat dan waktunya kadang berubah tak menentu, tak ada lagi guru yang memarahi muridnya, hanya ada dosen yang siap memberikan nilai “E” bila tak sesuai aturannya. Hahaha…

Waktu berlalu, kita saling mengenal dan bersenda. Melalui masa transisi pelajar menjadi mahasiswa. Berbagi pengalaman, memahami keragaman, semua itu membuat kita semakin dewasa. Pikiran dan hati terbuka menyadari luasnya dunia. Keangkuhan tersungkur menyadari betapa kecil pengalaman kita.

Begitu banyak kenangan. Begitu banyak pula hal yang dirindukan. Apa kalian ingat? Aroma tinta di papan tulis menyerbak melalui AC di dinding. Aku lupa! Sebab AC ruang kelas kita gak pernah nyala. Yang kuingat aroma keringat di tengah panasnya cuaca, bersatu menyebabkan reaksi kimia di udara dan menyiksa pernapasan kita.

Apa kalian ingat? Saat dapat berita dosen gak akan masuk. Benar-benar kebahagiaan yang hakiki. Namun semua sirna saat tiba-tiba seorang teman mengirimkan foto di grup kelas dan dosen sudah berpose candid dengan tatapan yang seolah berkata “emang enak gue prank?”.

Hei, apa kalian ingat? Meskipun telah tumbuh lebih dewasa, kenakalan masa sekolah tak luput begitu saja. Bahkan kekompakan melengkapinya. Bolos jam kuliah? Itu biasa. Titip absen jadi solusinya. Grup whatsapp menjadi saksi bisu kecurangan-kecurangan kita. Tak peduli tugas atau ujian, kita sering berbagi jawaban bersama. Si rajin yang menjawab, si malas langsung menyalinnya. Hufftt… Namun kini semua itu menjadi hal yang biasa, sebab semua tugas diberikan dan dikumpulkan melalui sosia media.

Bukan aku tak suka. Namun semua seperti kehilangan makna. Dulu kita mengeluh saat penjelasan dosen membuat jenuh, tapi kini terasa rindu saat jarak terpisah jauh. Dulu saat ada pelajaran yang menarik, kita antusias, namun kini memulai saja rasanya malas.

Ku pejamkan mata sejenak dan kembali melihat langit-langit ruangan itu.

“Menghabiskan waktu bersama di kelas, memang lebih seru.” Pikirku.

Tak seperti saat ini. Apanya yang bersama? Semua terasa hampa. Tatap muka di layar kaca cuma bikin habis kuota. Bagaimana bisa semangat? Jika kadang sinyal tersendat. Bagaimana bisa fokus? Jika belajar di atas kasur bukan di kampus. Perkuliahan berjalan hanya sekedar absen, tugas, lalu kumpulkan. Kita memang tak kehilangan esensi, tapi kehilangan sensasi.

Sudut bibirku melengkung mengenang semuanya. Masih banyak waktu yang inginku habiskan bersama kalian. Masih banyak hal yang ingin kulakukan. Aku terbaring putus asa dengan begitu menderita.

Mengingat semua kenangan itu memberiku dorongan dan harapan. Kupaksa tubuhku bangkit. Ku amati ruang itu, kecil, tak memiliki banyak fornitur atau hiasan, hanya sebuah kasur rawat, sebuah kursi dan meja dengan beberapa buku pelajaran milikku. Tak ada jendela, hanya satu sisi ruang memiliki dinding dan juga pintu kaca. Lorong berlantai keramik putih dan beberapa orang perawat mengenakan masker sesekali melintas. Di seberang pintu aku melihat ruang yang tak jauh berbeda. Disana juga ada seseorang yang bernasib sama sepertiku.

Aku coba berdiri, kepalaku terasa pusing. Ruangan seperti berputar dan pijakanku berguncang. Terseok-seok aku berjalan menuju arah pintu kaca meminta pertolongan tanpa mampu berbicara. Rasanya sangat menyiksa, paru-paruku seperti kehilangan fungsinya, dadaku terasa sesak, tenggorokanku seperti terbakar, sesekali batuk berat, dan nyeri di seluruh bagian tubuh. Kakiku mulai kehilangan tenaga dan “Bukk!!” dengan kesadaran yang tersisa tubuhku ambruk.

Seorang perawat yang lewat segera teriak panik melihatku dan tak lama samar-samar aku melihat beberapa orang berseragam aneh dengan penutup wajah memasuki ruangan. Masih setengah sadar aku merasakan tubuhku diangkat dan dibaringkan di atas kasur. Pandanganku buram dan hanya melihat bayangan samar orang-orang itu menjamahi tubuhku. Memastikan kondisiku yang sudah tak berdaya. Perlahan kasurku bergerak dan terdengar suara gaduh dari orang-orang yang mendorongnya.

Apakah seperti ini akhirnya? Aku tak dapat bertahan lebih lama dan akan pergi dengan penuh penyesalan. Masih terlalu banyak hal yang belum kucapai. Papa, mama, adik-adikku, teman-temanku, maaf karena aku tak lagi bisa bertemu kalian. Maaf jika aku memiliki banyak kesalahan. Pa, Ma, maaf jika aku belum bisa membahagiakan kalian. Adik-adikku, maaf jika aku tak menjadi kakak yang baik untuk kalian. Guys, maaf karena aku tak akan bisa lagi menghabiskan waktu kuliah bersama kalian. Sepertinya aku tak bisa memenuhi janji wisuda bareng yang kita impikan.

Inilah kenyataan pahit yang harus kuhadapi. Aku terinfeksi COVID dan saat ini sudah di tahap yang mengenaskan. Sudah setengah bulan sejak aku diisolasi dan inilah akhir yang kudapatkan. Beginikah akhirnya? Menghabiskan hari-hari terakhirku sendirian, tanpa kerabat, sanak saudara, atau teman. Tak ada jua yang akan menghadiri upacara pemakamanku nanti. Pada akhirnya kepergianku pun begitu menyedihkan.

Beginilah akhirnya, akhir dari penderitaanku. Jika masih diberi kesempatan, aku ingin memperbaiki segalanya. Aku berjanji akan belajar dengan sungguh-sungguh, rajin kuliah, menyatakan cinta pada gadis yang ku suka. Semua penyesalan menumpuk menjadi air mata. Kenangan-kenangan yang melintas dibenakku mulai sirna bersama setiap hembusan nafas. Kenangan dan penyesalan bersatu menjadi rindu yang memilukan.

“Adam!!”

“Adam!!”

Terdengar suara teriakan seorang wanita paruh baya yang sedikit melengking. Bersama dengan itu aku sontak terbangun dengan nafas tersengal-sengal. Kulihat disebelahku sebuah laptop dengan layar grup video call yang menyala. Beberapa wajah tak asing terlihat di layar monitor dengan mimik menahan tawa. Namun ada satu kolom di layar yang menampilkan wajah seorang wanita paruh baya dengan tatapan penuh cemoohan dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Terlihat juga wajah lusuhku yang kebingungan muncul di layar monitor.

“Baik, kita akhiri perkuliahan kita hari ini. Dan Adam, kamu tidur pulas sekali sepanjang saya menjelaskan.” Sindir wanita paruh baya itu.

“Gak ada akhlak! Haha.”

“Gak sopan, lho, Dam.”

“Kasih nilai E, buk! Haha.”

Ucapan wanita itu disambut oleh segelintir cemoohan dan tawa yang tak terbendung dari beberapa temanku di layar monitor. Disana juga kulihat wajah cantik yang kusuka tengah menahan tawa dengan tangan menutupi mulutnya. Aku yang masih kebingungan tak bergeming dan perlahan mengumpulkan fokus.

Ternyata aku ketiduran selama perkuliahan online. Apa yang baru saja terjadi sangat memalukan hingga ditertawakan oleh teman dan gebetan, tapi yang paling mengerikan, nilai mata kuliah ini gak tau, bisa atau tidak diselamatkan?

“Ya Tuhan! Gue benci kuliah online. Kapan bisa kuliah normal lagi?!” Teriakku dalam hati.

Saat video call berakhir, aku merasa seperti baru saja mengalami mimpi buruk dan membuat sebuah janji, namun entah kenapa aku tak bisa mengingatnya dengan jelas. Karena masih ngantuk dan belum puas, aku pun menutup layar laptop dan kembali tidur dengan pulas.

 

*** Tamat ***

 

Note :

Kisah ini hanya fiksi belaka dan seperti judulnya “REFLEKSI” bertujuan mencerminkan dampak kehidupan dan psikologi mahasiswa, serta menggambarkan efektifitas dalam proses pembelajaran pra dan pasca pandemic. Terus kok ada kalimat “Kerinduan yang hilang” ? ya kan cuma mimpi bro, dan biasanya kalo mimpi suka lupa isi mimpinya. 😛

Apabila ada nama atau kisah yang serupa, itu semua hanya halusinasi kalian semata. Dan apabila ada unsur aib mahasiswa yang dipublikasikan, semua tak lebih dari unsur kesengajaan penulis.

Minal Aidin wal fa izin.

Salam santuy dan “Happy New Normal”. :v