Lompat ke konten

Ilmu Al-Qur'an Dan Tafsir

Rindu Kuliah Offline Dengan Segala Rutinitas Mahasiswa

RINDU KULIAH OFFLINE DENGAN SEGALA RUTINITAS MAHASISWA

 

Pandemi covid-19 sangat membawa dampak yang sangat serius bagi kehidupan masyrakat mahasiswa di kampus. Ada sebuah kebijakan yang dirancang oleh pemerintah dalam hal ini sangat berdampak dan dirasakan oleh para mahasiswa, yaitu kegiatan belajar dilakukan secara virtual.

Merujuk pada surat Edaran Mendikbud Nomor 3 Tahun 2020 Tentang Pecegahan COVID-19 pada satuan pendidikan, dan nomor 36962/MPK.A/HK/2020, maka kegiatan belajar mengajar pun dilakukan secara Daring (dalam jaringan)  dalam rangka pencegahan dan penyeberan Virus Corona.

“semua hal telah dipecahkan manusia, kecuali bagaimana caranya hidup (sebagai manusia) “

Jean Paul Sartre

Ya, memang benar kata jean di atas, berbekal pengetahuan yang terlahir dari fitrah rasa ingin tahu yang meledak-ledak, manusia berhasil menyibak berbagai macam rahasia realitas.

Watak sosial manusia memaksa setiap individu untuk menjalin relasi satu dengan yang lainnya. Relasi sosial yang terjalin dimaksudkan untuk meraih manfaat (kesempurnaan) bagi setiap individu. Bisa dipastikan bahwasanya, tidak ada satupun manusia yang mampu meraih kesempurnaan dalam kehidupannya, baik kesempurnaan secara material ataupun kesempurnaan spiritual, tanpa keberadaan manusia yang lain. Manusia butuh pada manusia yang lainnya pada dasarnya untuk memperoleh kenikmatan baik secara harta, tahta, keturunan dan bahkan bisa jadi seksualitas pun juga, manusia butuh manusia lain agar ia senantiasa bisa mencicipi nikmatnya ilmu pengetahuan, kesucian dan kemuliaan. Sebagaimana seorang mahasiswa membutuhkan seorang dosen untuk memperoleh sebuah pengetahuan, seorang dosen pun membutuhkan kehadiran mahasiswa demi kesempurnaan ilmu pengetahuan yang di milikinya. Sebagaimana perempuan butuh pada lelaki demi meraih kesucian, lelaki pun membutuhkan kehadiran perempuan demi meraih kemuliaan.

Pada hakikatnya, watak sosial pada manusia dilandasi oleh watak individual. Dengan kata lain, watak sosial adalah watak sekunder manusia yang menyembur keluar dari watak primer manusia, yaitu watak individual. Manusia adalah mahkluk individual yang menjalin relasi sosial demi kepentingan individual. Oleh itu, manusia tidak akan menjalin relasi dengan manusia lain yang disadarinya hanya mendatangkan kerugian demi kerugian. Setiap manusia tidak akan ragu untuk memutuskan relasi dari manusia lain yang disadarinya tidak sedikitpun memberikan manfaat kepadanya. Lihatlah, betapa manusia hanya menjalin relasi dengan manusia lain yang mendatangkan manfaat kepadanya. Dan, lihatlah, betapa relasi sosial adalah relasi saling memanfaatkan, atau relasi saling mengambil manfaat.

Di sini, mungkin kita akan berujar kecewa, dengan keadaan pandemi Covid-19 begitu buruk relasi manusia yang terus-menerus menuntut dan saling memanfaatkan? Begitu egois kah manusia yang membungkus kepentingan pribadinya dalam bingkai kepentingan sosial? Tentu tidak. Relasi sosial (relasi saling memanfaatkan) bukanlah hal yang buruk selama relasi sosial tersebut direalisasikan dalam koridor etika sosial. Yakni, relasi saling memanfaatkan bukanlah sejenis eksploitasi apabila manusia tidak hanya semata-mata mengambil manfaat dari orang lain, tetapi juga memberikan manfaat pada orang lain. Dengan kata lain, relasi tersebut bukanlah  relasi eksploitatif apabila manusia tidak hanya semata-mata menguras manusia lain, tetapi juga mengisi. Sebab, harmonisasi sosial adalah upaya untuk memberikan manfaat sebanyak-banyaknya pada manusia lain, khususnya manfaat substansial. Dan, eksploitasi sosial adalah mengambil manfaat tanpa memberi manfaat,  atau menguras tanpa mengisi.

Karena pada hakikatnya manusia itu adalah makhluk sosial dan sekarang manusia dipaksakan menjadi manusia makhluk media sosial, apalagi bagi sebagian mahasiswa yang cenderung aktif di dalam kehidupan kampus semua ini menjadi sebuah kegelisahan baru karena di era disrupsi ini semuanya memaksakan melalui media virtual. Memang sangat berat akan tetapi mau bagaimana lagi tuhan semesta alam telah mengatur skenario ini dalam kehidupan apa boleh buat.

Pada hakikatnya seorang mahasiswa merupakan sebagai generasi muda yang memiliki peran penting dalam meningkatkan mutu pendidikan. Mahasiswa adalah insan akadamis dan juga sebagai makhluk sosial. Dengan tingkat intelektual yang dimiliki mahasiswa, sangat diharapkan dapat memberikan perubahan yang rekonstruksi dalam berfikir sehingga berarti terhadap kemajuan bangsa dan negara.

Fungsi agent of sosial change yang melekat pada jati diri mahasiswa pada saat ini, bukan semata-mata sebatas slogan-slogan demonstrasi saja. Namun suatu pemikiran yang rekonstruktif dan solutif terhadap pandemi Covid-19.

Dari sini, kita sebagai kaum intelektual yang berkecimpung di dunia kampus sangat merindukan segala suasana-suasana keadaan yang dirasakan di kehidupan kampus dan sangat merindukan ketika saling berdialetika saling berargumentasi entah itu dengan mahasiswa itu sendiri atau dengan dosen bahkan sekalipun birokrasi kampus.

Oleh karena itu, selama kita sebagai mahasiswa yang memiliki tanggung jawab yang sangat berat maka perlu untuk memanfaatkan era ini dengan sebaik-baiknnya bukan menjadi mahasiswa yang tidak mau untuk memikirkan solusi yang terbaiknya.

 

REFERENSI

https://m.ayobandung.com/read/2020/04/13/85796/kuliah-online-berjalan-sebulan-mahasiswa-rindu-kuliah-offline

Nata, Abuddin.2012. Pemikiran Pendidikan Islam & Barat. Jakarta : Rajawali Pers

Sumarna, Cecep.2005. Rekonstruksi Ilmu dari Empirik-rasional Ateistik ke Empirik-Rasional Teistik.Bandung : Benang merah press.

 

Penulis : Muhammad Khadafi Rezkyana Putra