Lompat ke konten

Ilmu Al-Qur'an Dan Tafsir

RINDU

RINDU

Namaku Alfian Akbar yang biasa disapa “akbar”. Aku lahir pada 13 Juni 2001 dan aku dilahirkan di sebuah Rumah Sakit yang bertempat di Cirebon. Aku memiliki 3 saudara, 2 adik laki-laki dan 1 adik perempuan. Keluargaku cukup bahagia karena masih diberi kenikmatan yaitu orangtua yang utuh dan saudara yang akur. Sejak SD aku bersekolah di kotaku sendiri yaitu Cirebon. Namun, saat SMA aku memilih pesantren di kota tetangga Cirebon yaitu Kuningan, Pondok Pesantren Husnul Khotimah.

Kini, aku menjadi salah satu mahasiswa di Universitas Sunan Gunung Djati Bandung.  Aku menginjak semester 2 menuju 3 di jurusan Ilmu Al Quran dan Tafsir Fakultas Ushuluddin. Oh iya aku tinggal bukan dikosan ataupun kontrakan seperti mahasiswa lainnya. Aku tinggal di pesantren kampus yang biasa disebut “Ma’had Al Jami’ah”. Sangat tak terasa, rasanya baru saja kemarin aku menjadi “maba” atau mahasiswa baru di universitas ini.

Sungguh, perjalanan di semester 2 ini tidak semulus yang aku bayangkan seperti semester 1 kemarin. Pada saat semester 1, aku benar-benar merasakan bagaimana kehidupan menjadi seorang mahasiswa dan dunia perkuliahan Aku baru mengetahui betul apa itu dosen, rektor, fakultas, organisasi dan lain sebagainya. Kehidupan perkuliahan ini sungguh membuat seseorang lebih mandiri. Mulai dari memilih teman, memilih kelas, memanage waktu dan keuangan, serta kegiatan lainnya.

Namun semester 2 ini kuhabiskan seluruh kegiatanku dirumah.  Karena ada musibah yang melanda hampir seluruh dunia inilah yang membuat hal tersebut terjadi yaitu Covid 19 yang biasa disebut virus Corona. Awalnya, hanya berada di Negara Cina namun akhirnya menyebar sampai Indonesia.

Pada awal perkuliahan di semester 2 ini aman-aman saja, kami melaksanakan kegiatan belajar di kampus seperti biasanya. Namun 2 minggu berjalan ada kabar yang sangat mengejutkan para mahasiswa. Kampus memberi kabar melalui surat edaran rektor bahwa kami diliburkan alias dipulangkan 14 hari karena menghindari virus corona ini. Reaksi dari mahasiswa pun berbeda-beda, ada yang menganggap kabar tersebut adalah kabar gembira, kabar buruk ada pula yang menganggap ini sebuah kabar yang biasa saja.

Ternyata libur kampus ini tidaklah libur yang nyata. Kegiatan perkuliahan dialihkan menjadi daring atau secara online. Hari pertama aman, hari kedua aman, walaupun masih kaget dan bingung bagaimana konsep dan teknis perkuliahan daring ini. Satu minggu terlewati sudah mulai keluhan-keluhan pun keluar dari mulut mahasiswa  termasuk aku, entah itu “ah gara-gara kulon (kuliah online) tugas jadi numpuk, kuota kekuras banyak gara-gara pake apk zoom” dan lain sebagainya.

Akhirnya 2 pekan pun terlewati dengan berbagai keluhan. Kemudian ada kabar yang sangat mengejutkan datang kembali. Surat edaran rektor selanjutnya tiba dan mengabarkan bahwa “masa perkuliahan daring diperpanjang hingga Juli”. Seperti ada yang meninju kepalaku ketika mendengar dan melihat surat edaran itu rasanya ingin marah geram. Hei aku lelah dengan perkuliahan online ini, masa kuliah ini harus berjalan dengan mengandalkan kuota dan sinyal yang lancar.

Setelah kabar itu datang, muncullah lelucon-lelucon yang mengekspresikan betapa tersiksanya mahasiswa dengan konsep perkuliahan online ini. Sudah tidak diberi subdisidi kuota, dosen tidak segan-segan memberi tugas yang menumpuk. Ah rasanya ingin berteriak untuk menupahkan kekesalan ini. Dan pada akhirnya perkuliahan tetap berjalan walaupun banyak sekali mahasiswa yang masih mengeluh tentang kekesalannya terhadap kebijakan daring ini.  Disisi lain, selain tugas menumpuk dan menguras kuota, para mahasiswa tidak memiliki pemasukan untuk biaya sehari-hari.

Dampak dari kuliah online ini sangat banyak sejujurnya. Dampak positifnya sangat menguntungkan bagi kaum rebahan sepertiku untuk selalu berdekatan dengan kasur, wajahku setidaknya menjadi lebih bersih karena tak pernah keluar rumah dan enaknya kuliah online ini tak perlu mandi pagi cukup cuci muka saja dan menyisir rambut agar rapih kemudian bersiap didepan laptop. Namun yang menyedihkannya adalah tidak dapat uang bulanan itu sangat menyulitkan untukku dan menambah kemalasan yang paling sangat tidak kusukai. Karena posisiku sebagai anak sulung, aku selalu dibebankan dengan mengerjakan pekerjaan rumah.

Rasa ingin memaki semakin membuncah, namun apa daya hanya bisa mengeluh dari rumah yang takkan pernah terdengar hingga petinggi kampus sana. Sungguh didalam hati yang paling dalam aku merindukan suasana kampus, teman-temanku, jajanan depan kampus, dan semua yang berkaitan dengan kampus.

Aku rindu teman kelas, jajanan dpr, jajanan depan kampus, kantin biru, rindu semuanya. Rindu suasana kelas yang selalu gaduh karena lelucon teman laki-laki, mengganggu cewek-cewek jurusan lain yang bermain tiktok di jendela kelas, menjahili cewek-cewek jurusan lain yang sedang make-up kaca jendela kelas. Tak hanya suasana kelas yang aku rindukan, suasana ma’had pun aku rindukan. Sholat berjama’ah tiap maghrib dan shubuh, sholat subuh di Iqomah setiap Jumt pagi dan Sabtu pagi. Ah sungguh ku sangat rindu.

Akan tetapi, aku berpikir apakah dengan aku mengeluh bisa menyelesaikan masalah ini? Apa dengan aku mengeluh bisa menjalankan perkuliahan normal seperti biasanya? Aku sadar aku tidak patut melakukan itu. Yang perlu kulakukan adalah menjalankan kuliah seperti biasanya walaupun via online dengan mengikuti seluruh prosedur dan tugas yang diberikan dosen. Sungguh sangat bervarian sekali tugas dari dosen seperti meresume mata kuliah tiap minggunya, ujian melalui video call, presentasi online menggunakan aplikasi zoom atau google meet dan masih banyak lagi.

Aku hanya berharap cepatlah virus corona ini lenyap dari negara kita tercinta. Jangan lupa pula dengan kebijakan pemerintah untuk tetap dirumah saja, jika keluar rumah menggunakan protokol kesehatan, dan tetap jaga kesehatan. Setelah kembali dari luar rumah harus langsung membersihkan diri dengan mencuci tangan dan mengganti pakaian.  Cukup sekian kuceritakan kerinduan ku kepada kampus tercinta.

 

Penulis : Ikfina Nurul Izzah