Lompat ke konten

Ilmu Al-Qur'an Dan Tafsir

Seminar Moderasi Beragama: Penguatan Implementasi Moderasi Beragama Bersama Mahasiswa Prodi IAT UIN Sunan Gunung Djati Bandung

IQT.UINSGD.AC.ID – Dalam rangka menguatkan kembali penerapan konsep moderasi beragama dalam setiap individu mahasiswa,  Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung (IAT UIN Bandung) menyelenggarakan seminar moderasi. Tahun ini mengusung tema “Penguatan Moderasi Beragama Berbasis Nilai-nilai Qur’ani”. Dihadiri oleh  Wakil Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bandung (UMB), Cecep Taufikurrahman, M.A P.hD sebagai narasumber. Acara dilaksanakan pada 27 November 2023, bertempat di Aula Fakultas Ushuluddin Lantai 4, Kampus 1 UIN Bandung. Seminar tersebut menarik antusias mahasiswa, terhitung 100 mahasiswa yang hadir memenuhi Aula Fakultas Ushuluddin. Tak heran dihadiri banyak mahasiswa IAT karena seminar moderasi ini dapat membantu mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir untuk menafsirkan Al-Qur’an.

Ketua Jurusan (Kajur) Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Bandung, Dr. Solehuddin, M.Ag mengatakan dalam sambutannya “Bersemangatlah dalam mengkaji Al-Quran karena Al-Qur’an ini satu-satunya yang bisa menyelamatkan kita baik di dunia maupun di akhirat. Pelajarilah seluruh ilmu yang ada di jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dari semester 1 sampai akhir. Karena semuanya bisa digunakan untuk menafsirkan Al-Qur’an. Seperti misalnya belajar filsafat, dengan pendekatan filsafat anda bisa menafsirkan Al-Qur’an begitupun psikologi, akidah, tasawuf, fiqh. Itu semua dapat digunakan untuk menafsirkan Al-Qur’an. Termasuk hari ini yang akan kita bincangkan itu,” ucapnya, Senin (27/11/2023).

Ecep Ismail, M.Ag selaku Wakil Dekan pun menyatakan dalam sambutannya “Saya setuju apa yang diungkapkan oleh Pak Solehuddin bahwa, Al-Qur’an itu ada segalanya fihi kullu sya’in. Berbeda dengan tafsir, kadang-kadang ada fihi kullu sya’in illa tafsir, wa fihi kullu sya’in wa tafsir. Sejauh mana mau mendekati Al-Qur’an, mengeksplorasi Al-Qur’an sehingga Al-Qur’an memberikan cahayanya. Al-Qur’an itu bisa memancarkan sinarnya dari manapun kita memandang. Saya yakin Al-Qur’an sudah memberikan nilai-nilai tawasuth, tawazun, i’tidal, dan sebagainya. Bagaimana kita bermoderasi beragama, agama yang tidak terlalu ekstrim, kuat dalam keyakinan, tetapi moderat dalam berkepribadian dan berpengalaman. Karena bagaimanapun kita harus ‘Bajik dengan bijak’,” ujar Ecep saat memberikan sambutannya, Senin (27/11/2023).

Kemudian pemaparan materi secara kompleks disampaikan oleh Cecep Taufikurrahman M.A P.hD beliau menuturkan bahwa setiap muslim harus memahami bahwa moderasi itu bukan sesuatu yang berhenti pada teori, moderasi itu sebelum istilah itu ada. “Sebenarnya kita sebagai umat muslim sudah lebih jauh mengamalkan praktek moderasi beragama, sebelum istilah menjadi hangat, “ ujar Cecep di depan audiens seminar, Senin (27/11/2023).

Moderasi kembali marak di seluruh dunia, bukan hanya dunia Islam. Tepatnya di Barat selepas terjadinya pengeboman WTC 2001, yang membuat dunia barat  menggali tentang Islam lebih dalam, setelah di telusuri lebih jauh, mereka tidak menemukan dasar-dasar terorisme dalam Al-Qur’an, tuduhan atas mereka sampai hari ini belum terbukti benar. Mereka justru menemukan dasar-dasar moderat dalam Islam, sehingga terjadi konversi agama yang luar biasa di Barat, Eropa, dan Amerika.

Islam substansinya moderat, nilai-nilai ajarannya moderat bahkan tidak perlu lagi di dakwahkan sebagai agama yang moderat. Yang jadi persoalan hari ini bukan pada ajaran Islamnya, tetapi bagaimana kita sebagai seorang Muslim memahami ajaran agama kita. Karena yang diinginkan oleh Al-Qur’an adalah umat yang wasathan. Inilah yang kita kenal dalam surah Al-Baqarah (2): 143

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا ( البقرة/2: 143)

“Dunia barat menganggap istilah moderasi itu adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dengan upaya liberalisasi pemikiran keislaman, sehingga mereka resisten. Hal tersebut tentu bukan ajaran Islam, tapi liberalisme agama. Kemudian, mereka  menganggap kalau orang liberal akan mengabaikan norma-norma dasar dalam teks-teks keagamaan. Sikap moderat diidentikan dengan liberalisasi, itu adalah sikap yang keliru,” ucap Cecep.

Salah satu mahasiswa mengajukan pertanyaan terkait penolakan-penolakan terhadap kampanye moderasi beragama karena dianggap melemahkan ghairah-ghairah berislam, apa langkah konkret yang bisa diambil oleh mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir sehingga pandangan orang-orang terhadap moderasi beragama itu benar pemahamannya?

Beliau menanggapi bahwa, “Kita di IAT adalah orang yang paling bertanggung jawab menjelaskan Islam karena kita yang belajar Al-Qur’an. Buatlah masjid UIN diwarnai dengan aktivis-aktivis, mahasiswa-mahasiswa IAT,” jawabnya.

Salah satu peserta seminar menuturkan, “Yang saya dapatkan dari seminar ini, jadi intinya itu moderasi adalah substansi Islam, bukan sifat Islam. Jadi islam gak bisa dipisahin dari nilai-nilai moderasinya. Nah, berbicara tentang moderasi, bagaimana sikap umat islam bisa menghayati nilai-nilai dan ajaran Islam itu sendiri. Lalu menginternalisasikannya dalam kehidupan sehari-hari, ” ujar Nazwa Amalia, mahasiswa IAT semester 7, saat diwawancarai pada Senin (27/11/2023).

“Apalagi kita khususnya sebagai mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir perlu tahu, jadi makna yang sebenarnya dari moderasi bergama itu kaya gimana, khususnya berbasis dari Al-Qur’an. Kemudian, kita bisa berperilaku secara moderat dan mengamalkan niali-nilai moderasi itu dalam kehidupan sehari-hari,jadi kita enggak terlalu ekstrim ke kiri dan enggak terlalu ekstrim ke kanan, engga berlebihan dan enggak terlalu kurang juga, ” tambah Nazwa.

Tim Pers HMJ IAT UIN Sunan Gunung Djati Bandung