Lompat ke konten

Ilmu Al-Qur'an Dan Tafsir

Spirit Kartini Millenial

Spirit Kartini Millenial

Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat atau biasa disebut dengan RA Kartini adalah representasi perjuangan wanita Indonesia untuk memperoleh persamaan hak di antara laki-laki dan perempuan (Abad ke-19). Kerja kerasnya dinilai sukses, dan akhirnya ia pun ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional oleh Presiden Soekarno saat itu.

Max Weber berpendapat bahwa agamalah yang berjasa mencetuskan perubahan sosial sangat luar biasa dalam sejarah peradaban manusia. Teorinya pun selaras dengan hadis Rasulullah Saw. ”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.”. Dengan kata lain dalam dimensi horizontal, Rasulullah Saw. Menyerukan tentang kesetaraan dan keadilan, khususnya bagi wanita.

Allah berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ …

Artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…” (Q.S. al-Baqarah: 34)

Di dalam tafsir al-Azhar, karangan Buya Hamka dijelaskan bahwa ayat tersebut secara teks memang menjelaskan atas kepemimpinan laki-laki terhadap perempuan, akan tetapi didalamnya terdapat hak dan kewajiban yang sama untuk laki-laki dan perempuan. Buya Hamka pun menjelaskan, jika seorang perempuan tersebut dinilai mumpuni dan mempunyai potensi massif seperti halnya laki-laki, itu adalah bagian dari hak yang dimiliki oleh perempuan itu sendiri. Terkhusus dalam hal kehidupan ini, perempuan pun harus bertalenta dan mempunyai spirit yang  tinggi dalam menjaga stabilitas kehidupannya.

Mungkin itu dapat menjadi pengantar menuju intinya, yaitu tentang spirit perempuan dalam meneladani sifat mulia RA Kartini untuk menjalani kehidupan millenial ini. Hal ini pun  menjadi resep istimewa yang sederhana dan mudah dilakukan oleh setiap orang, khususnya bagi perempuan millenial.

 

Pertama, tidak bosan belajar.

Dulu perempuan dianggap tidak harus berpendidikan tinggi, ia harusnya berada di rumah untuk fokus mengurusi rumah tangga saja, begitu pun dengan persepsi ayah RA Kartini. Sehingga RA Kartini harus berhenti bersekolah. Namun RA Kartini tidak bosan untuk belajar dan tetap berusaha agar ia cerdas dan berwawasan luas. RA Kartini adalah seorang perempuan yang rajin membaca buku baik dalam negeri atau pun luar negeri. Karena perjuangannya dan dengan berbagai kemajuan yang hadir saat ini, bukan hal yang mustahil bagi para perempuan untuk meraih pendidikan yang setinggi-tingginya. Salah satu yang hal yang harus dipersiapkan untuk meraih pendidikan yang setinggi-tingginya adalah biaya pendidikan. Teman-teman dapat merencanakannya dengan tabungan pendidikan. Atau mungkin dengan asuransi pendidikan agar dapat memastikan bahwa biaya pendidikan anak tetap terlindungi dan anak masih dapat melanjutkan pendidikannya.

Allah Swt. berfirman:

…وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ …

Artinya: “…Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (Q.S. al-Mujadilah: 11)

Kedua, pantang menyerah.

RA Kartini pantang menyerah dalam memperjuangkan kesetaraan dan keadilan bagi perempuan meskipun jalan yang ditempuh tidak mudah. Dengan spirit yang sama, teman-teman juga harus dapat meraih apa yang dicita-citakan. Apapun cita-citanya. Semuanya amat mungkin terjadi, asalkan teman-teman harus merencanakannya dengan baik, tidak mudah menyerah. Karena tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Misalnya, teman-teman dapat menggunakan bermacam-macam produk keuangan yang ada seperti tabungan untuk meraih impian. Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi gunung.

Allah Swt. berfirman:

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ (1) وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ (2) الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ (3) وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ (4) فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6) فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (7) وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ (8)

Artinya : “Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?,(1) Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu,(2) yang memberatkan punggungmu? (3) Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. (4) Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, (5) sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.(6) Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, (7) dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.(8)” (Q.S.al-Insyirah: 1-8)

Ketiga, berani.

Pada masanya, yang dilakukan RA Kartini bukanlah hal yang biasa dilakukan seorang perempuan, namun karena tekadnya yang kuat, ia berani membuka tempat untuk membagikan pengetahuannya kepada perempuan dan anak-anak. Karena keyakinannya, hal ini dapat  memberikan dampak yang signifikan di masa depan dan itu sudah terbukti di masa sekarang. Sikap berani RA Kartini ini dapat teman-teman lakukan dalam mengelola kebutuhan sendiri. Berani itu memang harus dilakukan, agar kita pun terbiasa melatih mental kita.

Allah Swt. berfirman:

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Artinya: Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Q.S. Ali Imran: 139)

Keempat, empatik.

Kegelisahan RA Kartini timbul karena kepeduliannya dengan sekitarnya yang mana pada saat itu perempuan masih dianggap sebagai seseorang yang lemah, yang harus dijaga. Menjawab hal itu, ia berusaha agar setiap perempuan dapat memiliki kesempatan yang sama juga dengan laki-laki, dapat mandiri dan berdiri di kakinya sendiri. Dalam salah satu suratnya, RA Kartini mengatakan “Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya, tapi karena kami yakin tentang pengaruhnya yang besar bagi kaum perempuan, agar perempuan lebih cerdas dalam melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya. Seperti menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”.

Allah Swt.berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Artinya: Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Q.S. Ali-Imran: 103)

Dan yang terakhir, sederhana.

RA Kartini dilahirkan dari keluarga kaya raya, namun hal ini tidak membuat ia angkuh dengan menunjukkan kekuasaannya dan tidak hidup boros. Jika teman-teman bagaimana? Masih suka menghambur-hambur dan hidup berlebih-lebihan kah? Mestinya kita merasa sangat malu dengan RA Kartini ini. Sudah seharusnya kita dapat mengendalikan diri, membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta ingat selalu untuk menyesuaikan dengan ukuran kemampuan diri sendiri.

Allah Swt. berfirman:

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

Artinya: Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (Q.S. al-Isra: 27)

IG : Muhamad Yoga Firdaus