Lompat ke konten

Ilmu Al-Qur'an Dan Tafsir

Supaya Kita Bahagia: Tafsir Kebahagiaan Jalaluddin Rakhmat

Oleh: Asya Dwina Luthfia

“Jangan lupa bahagia!” Kalimat ini pasti tidak asing di telinga kita, terlebih saat kita menyandang status “Mahasiswa Semester Tua”. Kalimat tersebut layaknya pelangi di tengah badai ujian yang seperti enggan surut menghujam individu yang sedang menyandang gelar “Istimewa” ini.

Bicara kebahagiaan, kita sadar setiap manusia mendambakan kebahagiaan dalam hidupnya. Di saat lapang maupun sempit, kita semua tetap mengidamkan dan mengusahakan kebahagiaan pada setiap detiknya.

Namun kita juga tahu bahwa tidak ada tolak ukur baku dalam kebahagiaan. Hal ini disebabkan oleh hakikat manusia itu sendiri yang memang unik dan sama sekali berbeda satu dengan yang lainnya.

Dalam kajian psikologi, mencoba mendeskripsikan kebahagiaan sebagai keadaan jiwa seseorang di mana ia merasakan emosi positif terhadap kehidupan yang dijalaninya. Sedangkan kebahagiaan menurut Hurlock ialah gabungan dari tiga A, yaitu (acceptance) penerimaan, (affection) kasih sayang dan (achievement) pencapaian.

Lalu bagaimana caranya supaya kita bahagia? Jalaluddin Rahmat dalam bukunya Tafsir Kebahagiaan, menjabarkan enam langkah meraih kebahagiaan berdasarkan kajian ayat-ayat Alquran.

Pertama, yakinlah di balik kesulitan pasti ada kemudahan. Kita seringkali merasakan keadaan negatif secara bertubi-tubi datang ketika sesuatu yang buruk menimpa kita. Bingung, insecure, frustasi, putus asa, sedih, kecewa, dll., membuat mood kita jatuh, dan jauh dari kata bahagia. Di sinilah Allah menguji keimanan kita akan diri-Nya, apakah kita mampu percaya bahwa bersama sebuah kesulitan ada banyak kemudahan, atau terpuruk bersama keadaan yang kian rumit. Sesuai dengan tafsir Kemenag RI dan Al-Mishbah Q.S. Al-Insyirah ayat 5, kita diajak meyakini kasih sayang Allah, bersabar dan bertawakal kepada-Nya dalam setiap musibah yang kita hadapi.

Kedua, bersyukur, ridha dan tawakal atas segala yang terjadi. Bersyukur dan ridha akan segala ketetapan yang Allah berikan kepada kita membantu energi-energi positif dalam tubuh kita terbangun, dan menciptakan kebahagiaan dalam diri kita Insyaa Allah. Sebagaimana tafsir Kemenag RI pada Q.S. At-Taubah ayat 51 yakni kita harus dengan tegas dan yakin bahwa tidak akan ada satu keberuntungan atau musibah di dunia kecuali telah ditetapkan dan ditakdirkan oleh Allah bagi kita, sungguh hanya Allah yang mengatur urusan kita dan demikianlah seharusnya orang-orang yang benar imannya bersandar dan bertawakal kepada-Nya.

Ketiga, memaafkan orang lain. Memaafkan adalah langkah tepat untuk melepaskan sekaligus mengobati luka emosional akibat peristiwa buruk yang menimpa kita. Dalam sistem afektif, ketika terjadi pelepasan emosi negatif, maka emosi-emosi positif memenuhi diri kita. Hal ini perlahan akan mengubah kognitif kita untuk berhenti memikirkan hal buruk dan beralih kepada hal yang lebih baik. Perubahan ini akan diikuti oleh perilaku sehari-harinya menjadi lebih tenang dan terarah. Al-Qur’an pun mengajarkan hal yang sama, dalam Tafsir Al-Mishbah Q.S. An-Nahl ayat 126, disebutkan bahwa apabila kita didzolimi dan hendak membalasnya sebagai bentuk hukuman, maka hukumlah untuk menegakkan kebenaran sepadan dengan apa yang kita terima, jangan melebihi batas, kendati demikian apabila kita memilih bersabar dan tidak menuntut balas, maka hal itu akan lebih baik bagi kita di dunia dan akhirat.

Keempat, menjauhi prasangka buruk. Ibnu Katsir dalam tafsirnya surat Al Hujurat ayat 12, Allah melarang orang-orang mu’min berprasangka buruk, mencurigai orang lain dengan tuduhan buruk dan tidak berdasar adalah dosa dan harus dijauhi. Selain itu dengan menjauhi prasangka buruk kita tidak akan salah dalam bersikap dan menjauhi emosi negatif dalam diri kita karena hal yang belum tentu kebenarannya.

Kelima, menjauhi emosi marah. Marah dalam jangka panjang mendatangkan dendam dan kebencian mendalam. Hal ini sungguh penyakit hati yang harus kita hindari saat kita ingin hidup tenang dan bahagia.

Keenam, mengurangi hasrat duniawi dengan zuhud dan qana’ah. Fokuslah pada hal yang benar-benar kita butuhkan. Di zaman yang berubah dengan sangat cepat ini, seringkali kita menginginkan hal-hal di luar kemampuan bahkan bukan keinginan kita sendiri, gaya hidup yang menonjolkan materialistis membuat semua orang berlomba menunjukkan kekayaan, kehebatan, kecantikan dirinya. Stres, insecure, iri, dengki, ghibah, penyakit hati yang kerap kali ada ketika hal ini tidak dijauhi. Dan kita tahu itu semua jauh dari makna bahagia.

Yuk, ibda’ binafsik. Mulailah dari dirimu, carilah makna bahagiamu dengan pedoman Allah dan Nabi SAW., ingat, kita mampu membahagiakan orang lain jika kita sudah berhasil membahagiakan diri kita sendiri.

*Penulis merupakan mahasiswa IAT angkatan 2018

1 tanggapan pada “Supaya Kita Bahagia: Tafsir Kebahagiaan Jalaluddin Rakhmat”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *