Lompat ke konten

Ilmu Al-Qur'an Dan Tafsir

Tahfidz Qur’an, Tradisi yang Layak untuk Dipertahankan

  • oleh
Foto/Unsplash

Oleh: Nur Muhamad Iskandar

            Tahfidz Qur’an adalah usaha individual untuk menghafal Al-Qur’an baik melalui guru tertentu yang hafal Al-Qur’an, ataupun melalui lembaga khusus. Pada umumnya, umat Islam melakukan tradisi menghafal dengan cara membaca atau melihat sebelumnya, tetapi ada juga yang murni hanya dengan mendengarkan saja karena keterbatasan pada penglihatan. Kemampuan dan ketelitian mereka dalam melantunkan kalamullah bisa dibilang sama dengan para penghafal lain yang memiliki kesempurnaan penglihatan. Bahkan di antara mereka ada yang lebih unggul.

Kegiatan yang dilakukan dalam proses tahfidz qur’an, di antaranya: setoran, muraja’ah, mudarasah, sima’an, tikraran, talaqqi, musyafahah, bin-nazar, dan bil-gaib. Selain itu, para penghafal qur’an dibiasakan untuk khatam Al-Qur’an di setiap pekannya. Bahkan menurut Ahmad Atabik dalam jurnalnya “The Living Qur’an: Potret Budaya Tahfiz al-Qur’an di Nusantara”, mereka yang sudah lancar membaca Al-Qur’an dan hafal di luar kepala, mampu membaca satu juz kira-kira selama 15-20 menit, sehingga khatam qur’an dalam semalam bukanlah hal yang mustahil.

Dalam perkembangannya, ada beberapa pihak yang telah berkontribusi dalam tradisi tahfidz qur’an ini, seperti guru (muhaffiz), murid dan lembaga tahfidz Al-Qur’an. Para muhaffiz berperan membimbing santrinya dalam proses menghafal Al-Qur’an. Di sisi lain lembaga tahfidz menyusun kurikulum dan metode yang dapat membuat santrinya fokus dalam upaya menghafal Al-Qur’an. Lalu, Sahabat Tafsir tahukah kalian sejak kapan tradisi tahfidz qur’an ini bermula, khususnya di negara Indonesia?

Awal Mula Tradisi Tahfidz Qur’an

            Sahabat Tafsir, perlu diketahui pembelajaran kitab suci Al-Qur’an sendiri sudah berlangsung lama di Indonesia sekitar abad ke-12 masehi. Kitab suci Al-Qur’an diajarkan seiring dengan kedatangan ajaran Islam ke Nusantara. Selanjutnya pada abad ke-15, salah satu dari wali songo, yaitu Syekh Ahmad Rahmatillah atau yang dikenal sebagai “Sunan Ampel” mendirikan sebuah padepokan di Ampel, Surabaya, yang menjadi pusat pendidikan di tanah Jawa. Lembaga yang dibangun Sunan Ampel ini merupakan cikal bakal berdirinya pesantren.

Satu abad setelahnya, yaitu pada abad ke-16 masehi muncul beberapa pesantren besar yang mengajarkan ilmu-ilmu agama dan menjadi pusat penyebaran Islam. Pesantren-pesantren ini tidak hanya mengkaji kitab-kitab klasik saja, tetapi di dalamnya juga terdapat pembelajaran Al-Qur’an dan tafsir. Pengkajian terhadap Al-Qur’an dan tafsir pada masa itu, tidak menutup kemungkinan yang menjadi awal mula munculnya tradisi menghafal Al-Qur’an. Adapun sosok yang membawa tradisi hafalan Al-Quran di Indonesia adalah KH. M. Munawwir Krapyak.

Dalam artikel berjudul “Sejarah Lembaga Tahfiz Al-Qur’an di Indonesia” yang ditulis oleh Muhammad Rafi, dijelaskan setelah lama menimba ilmu di kota Mekah dan Madinah, sosok Kiai Munawwir ini kembali ke Indonesia dan mengabdikan dirinya dengan mendirikan sebuah lembaga, yaitu Pesantren Krapyak. Pesantren ini bertempat di daerah Yogyakarta. Pesantren inilah yang pertama kali membuka kelas khusus santri hafizul quran pada era 1900-an, dimana saat itu Indonesia masih berada dalam penguasaan penjajah.

Meskipun beliau bukan seseorang yang pertama kali mendirikan pondok pesantren tahfidz Al-Quran di Indonesia, namun rupa-rupanya metode tahfidz yang ditradisikan Kiai Munawwir dalam pesantren yang didirikannya, dijadikan rujukan oleh hampir seluruh pondok pesantren tahfidz Al-Quran yang muncul belakangan. Munculnya kelas tahfidz Al-Qur’an ini, telah menarik minat masyarakat untuk menghafal Al-Qur’an. Pada akhirnya tradisi tahfidz qur’an ini tidak hanya berjalan di pesantren saja, tetapi mulai terbentuk di dalam lembaga-lembaga selain pesantren.

Urgensi Tradisi Tahfidz Qur’an

Sahabat Tafsir, ternyata selain menjadi sebuah tradisi, tahfidz qur’an juga telah menjadi bagian dari syiar agama Islam di Indonesia. Kita dapat jumpai tradisi tahfidz sebagai syiar agama Islam di majlis-majlis sima’an Al-Qur’an, yang biasanya dilakukan di lingkungan pesantren. Sima’an Al-Qur’an dilaksanakan dengan membaca Al-Qur’an secara bergantian oleh para penghafal qur’an, disimak langsung oleh para jamaah hingga khatam. Sima’an Al Qur’an ini selanjutnya ditutup dengan doa khotmil qur’an.

Selain itu, tahfidz qur’an juga dijadikan sebagai kompetisi dalam sebuah kejuaraan. Pada awal tahun 1980, Departemen Agama RI memasukkan MHQ (Musabaqah Hifdzil Qur’an) pada cabang MTQ tingkat nasional. Ramainya perlombaan MHQ, dan banyaknya masyarakat yang antusias untuk mengikuti perlombaan ini membuat tahfidz qur’an menjadi bagian dari syiar agama Islam.

Oleh karena itu, tradisi tahfidz qur’an layak untuk dipertahankan karena tradisi ini merupakan salah satu bentuk dari syiar agama Islam di Indonesia, dan merupakan tradisi yang diperjuangkan oleh para ulama yang berusaha membumikan Al-Qur’an. Selain itu, Rasulullah SAW bersabda “sesungguhnya orang yang di dalam dadanya tidak terdapat sebagian ayat dari Al-Qur’an bagaikan rumah yang tidak ada penghuninya” (HR. Turmudzi). Hadits ini telah mengisyaratkan agar kita mengisi hati ini dengan hafalan ayat-ayat qur’an.

 Sahabat Tafsir, sungguh luar biasa bila kita melakukan tradisi menghafal ini, sebab di dalamnya terdapat tujuan-tujuan yang mulia. Salah satu tujuan dari kegiatan ini adalah menjaga kemurnian kitab suci Al-Qur’an. Meskipun di zaman modern ini ada teknologi yang dapat mengidentifikasi naskah-naskah qur’an yang cacat, tetapi teknologi ini bersifat pasif dan mempunyai kelemahan tertentu. Sehingga dalam rangka menjaga kemurnian kalamullah kegiatan tahfidz qur’an ini masih dibutuhkan.

*penulis merupakan mahasiswa IAT angkatan 2021

Sumber :

Artikel : https://tafsiralquran.id/sejarah-lembaga-tahfiz-al-quran-di-indonesia-sejak-abad-15-hingga-kini/

Artikel : https://tafsiralquran.id/tradisi-hafalan-alquran-di-indonesia/

Jurnal : “The Living Qur’an: Potret Budaya Tahfiz al-Qur’an di Nusantara” karya Ahmad Atabik

Jurnal : “Tradisi Hafalan Qur’an di Masyarakat Muslim Indonesia” karya Ali Romdhoni