Lompat ke konten

Ilmu Al-Qur'an Dan Tafsir

Urgensi Sifat Saling Memaafkan

  • oleh

Oleh: Nur Alfiyah

Tak terasa sudah di penghujung Ramadhan saja. Mengenang hari kemenangan lalu-lalu, idulfitri acapkali diidentikkan dengan momen saling memaafkan. Namun selama ini, apakah telah kita lalui dengan sebetul-betulnya memaafkan atau hanya formalitas semata?- Sebagai makhluk sosial, seorang manusia tak akan bisa hidup tanpa manusia lain, yang tak ayal sudah menjadi fitrah berpotensi lupa dan salah.  Walau saling memaafkan tak terikat waktu, tapi tak ada salahnya kita jadikan momen saling memaafkan pada idulfitri dengan maaf yang setuntas-tuntasnya.

Berdasakan kitab Mu’jam al-Maqayis fi al-lughoh karya Ibn Faris, Kata maaf berasal dari bahasa Arab, yakni al-‘afw yang berarti meninggalkan (tarku) dan mencari sesuatu (thalab).  Kata ini serta derivasinya terulang dalam Al-Qur’an sebanyak 35 kali, 7 di antaranya berkaitan dengan pemaafan. Hal ini menunjukan bahwa saling memaafkan merupakan akhlak yang penting dan memiliki konsekuensi bagi seorang muslim.

Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Q.s Ali-Imran: 134, akhlak merupakan salah satu sifat orang bertakwa. Rasulullah sebagai panutan umat, tak sedikit memberikan contoh konkret perihal saling memaafkan bahkan teraplikasikan pada peristiwa-peristiwa besar Islam. Seperti pada Peristiwa Thaif dan Fathu Makkah. Saat peristiwa tersebut terjadi, jelas sekali akan ketulusan hati Nabi dengan tidak membalas perbuatan mereka (pendudukan Thaif dan Makkah), melainkan terlahir motivasi tinggi dari Nabi untuk memaafkannya.

Adapun langkah-langkah pemaafan, dalam Ilmu Psikologi, pemaafan ini berkaitan dengan dua dimensi, yakni intrapsikis dan interpersonal. Dimensi intrapsikis melibatkan keadaan dan proses yang terjadi di dalam diri orang yang disakiti secara emosional maupun pikiran dan perilaku yang menyertainya. Sedangkan dimensi interpersonal lebih melihat bahwa memaafkan orang lain merupakan tindakan sosial antara sesama manusia.

Berdasarkan hal tersebut, sebelum langkah saling memaafkan pada orang lain, kita musti berkompromi terlebih dahulu dengan hati pribadi. Memaafkan dengan tulus, menghapus segala rekam jejak buruk orang lain pada kita, serta menyadari bahwa tak ada manusia yang hidup tanpa kesalahan. Setelahnya, kita musti berusaha memberikan lembaran baru terhadap orang tersebut, dibuktikan dengan suatu ungkapan atau perilaku terhadapnya bahwa kita telah memaafkan.

Dalam Al-Qur’an pun kata al-shafh terulang 8 kali dalam Al-Qur’an, yang memiliki arti lapang. Halaman pada sebuah buku dinamai shafhat karena kelapangan dan keluasannya. Dari sini, al-shafh dapat diartikan kelapangan dada. Berjabat tangan dinamai musafahat karena melakukannya menjadi perlambang kelapangan dada. Nah uniknya, dari 8 kata al-shafh dalam Al-Qur’an, 4 di antaranya ditulis setelah kata al’afw. Hal ini menunjukan bahwa kita musti memaafkan terlebih dahulu, menghapus halaman kotor tentang orang tersebut. Barulah membuat lembaran baru atau berhati lapang.

Selain langkah yang telah disebutkan di atas, Islam pun memberikan langkah lain agar pemaafan dapat tuntas, sebagaimana yang tercantum pada Q.S Al-Imran:159, yakni dengan mendo’akan hal baik pada orang tersebut serta bermusyawarah untuk menyelesaikan suatu konflik antara keduanya dan diharapkan hal yang menyakitkan hati tak terulang kembali. Namun setelah kita mengetahui langkah-langkah dari memaafkan, apa saja sih alasan mengapa kita musti memaafkan orang-orang yang sempat menyakiti kita?

Pertama, Self-Health. Untuk kesehatan diri sendiri. Melansir dari halodoc.com bahwa saat emosi menimbulkan rasa marah, hormon stres seperti adrenalin dan kortisol dapat mempercepat detak jantung dan pernapasan. Hal tersebut akan membuat pembuluh darah kencang karena lonjakan tekanan darah. Maka memaafkan bisa membantu diri pribadi agar tidak terus dihantui kesalahan masa lalu yang dapat berujung menyalahkan diri penuh emosi.

Kedua, Self-Spiritual. Untuk kehidupan spiritual dan beragama yang lebih baik. Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa memaafkan merupakan salah satu akhlak yang selalu tertanam pada diri Rasulullah, sosok suri tauladan terbaik seluruh umat. Selain itu, memaafkan pun merupakan salah satu ciri dari orang bertakwa. Semakin kita bertakwa, semakin pula dekat dengan Allah Swt.

Ketiga, Self–Happiness. Dengan melepaskan “belenggu” amarah, sehingga kita akan menjadi lebih bahagia, lebih lapang menjalani kehidupan. Tak akan merasa ada pembatas saat bersosialisasi dengan siapapun. Tak ada halangan untuk terus menebar kebaikan. Hidup pun lebih damai dan tentram. Itulah alasan mengapa kita musti saling memaafkan. Khususnya, pada idulfitri mendatang. Taqobbalallahu minna wa minkum taqobbal yaa kariim. Minal ‘aidin wal faizin. Mohon maaf lahir batin.

*Penulis merupakan mahasiswa IAT angkatan 2018